16.3.11

keputusan

biar tuhan yang putuskan
ada di mana aku kelak
harus tertawa bersama nabi-nabi
atau menangis bersama para pendusta
biar tuhan yang tentukan
apakah aku layak ada di samping-nya

dia

dia tidak berada di dekat
dia tidak berada di jauh
dia tidak berada di sekitar
dia tidak berada di antara

tapi

dia ada bersama :
di sini
di hati

o, wahai

o, wahai
kau kutuk aku dengan akal dan pengetahuan
lalu kau beri pilihanpilihan
padahal sudah kau sediakan hukuman
untuk setiap jawab yang tersampaikan

o, wahai
lalu kau beri aku perasaan
yang sebenarnya adalah ombangambing permainan
hingga aku jadi makhluk yang gamang
dalam laku perbuatan

o, wahai
aku tahu lagakmu yang purapura tak perhatian
tapi diamdiam sudah siapkan jebakan
dalam sukses dan kemakmuran
dalam tahta dan perempuan

o, wahai
terkutuklah aku dalam hidup dan matiku
yang tak pernah mampu membalas cinta-mu

1.7.10

tak ada judul

lihatlah, betapa pendek sumbu diri
hingga begitu mudah dibakar emosi

sesama saudara saling melukai
sesama warga saling menghabisi

tanah yang sudah tak lagi subur ditanami padi
menjadi lahan yang siap dipanen hasil korupsi

tak beda lagi maling kelas teri atau berat
semua sama, rakyat atau pejabat

inginnya menikmati hasil tanpa keringat
dianggap hidup di dunia tak ada kiamat

mati?

dering telepon meraungraung seperti ambulans yang membawa kita bergegas menjemput datangnya kematian. kematian adalah hal yang sudah pasti terjadi dan dengannya tak ada yang perlu ditakuti. oleh sebab apapun, kapanpun, dimanapun, kematian itu sama saja. pada akhirnya tubuh akan ditutup tanah dan ditandai dengan batu nisan. bagaimana dengan yang terjadi sekarang? bagaimana jika ternyata pada saat ini sebenarnya kita tidak hidup tapi sedang mati, dan dalam keadaan mati ini kita diberi mimpi seperti sedang menjalani hidup. bagaimana pula jika ternyata apa yang kita anggap sebagai mati adalah bahkan itu yang sebenarbenarnya hidup?