4.12.11

pagi, hujan, televisi

malam dan pagi telah disubstitusi dengan secangkir kopi
televisi membuka percakapan dengan "apakabar hari ini?"
lalu perjalanan akan segera dimulai,
dan masa depan anakanak dipercayakan
kepada apa yang tersaji,
di meja makan dan koran harian

orangorang yang gelisah
mulai berkeliaran dengan memakai plastik
rimis air dari langit tak juga berhenti menitik
semua hargaharga diri,
kini menjelma barang antik
segera saja, angkat teleponmu,
tanyakan pada yang di seberang sana,
berapa bandrolmu

kita akan hidup sebagai sebuah tayangan
berdurasi sepanjang 30 detik
semua detil disajikan,
segala properti dipaparkan
yang dengannya akan membuat kita berpikir,
"apakah hidup kita cukup layak untuk dijadikan sebuah film?"

1.12.11

semua telah berakhir, 2

ketika sesuatu harus memilih
dalam kebimbangan dan putus asa
tertikam di ulu hati

berhenti
beku
detak jantung tak lagi berbunyi
desah napas tak lagi bersuara

semua telah berakhir
di sini,
di ujung pisau ini

30.11.11

semua telah berakhir, 1

semua telah berakhir
ketika sampai pada satu titik 'tuk berhenti

tak bisa berharap banyak
tak bisa berharap lebih
ketika angan tidak tercapai
ketika mimpi tidak tergapai
tak bisa terus
tak bisa laju
angan tetaplah angan yang tak terwujud
mimpi tetaplah mimpi yang tak terjadi

semua telah berakhir,
di sini

selamat datang di duniaku

selamat datang di duniaku
selamat datang di alam pikiranku
tinggal(lah) lebih lama lagi
serta nikmati saja kehangatan dalam kepompong
tiada ulat atau belatung
hanya bunga dan kupu warnawarni
bebaskan dan lepaskan dirimu dari beban tekanan
yang selalu mendesakmu
lalu diamlah,
sebab keheningan adalah
suatu keriuhan yang paling indah untuk didengarkan
setelah semua itu selesai kau nikmati,
kau akan temukan sebuah pintu
ke arah yang lebih baik dari sebelumnya

21.8.11

membaca tanda

membaca tanda
kota dengan lampulampu yang padam
sepasang gelandangan dengan mata terpejam
dan kenangan yang lewat pelanpelan
orangorang mendadak gila
televisi menjadi berhala yang mengadu domba
lalu rintik gerimis datang tibatiba
dan aku telah lupa cara untuk berdoa

drupadi

o, inikah kasih yang kaujanjikan
kala kauperlakukan raga lemah ini
sebagai benda untuk kaupertaruhkan

o, inikah cinta yang kauberikan
kala kaubiarkan raga ditelanjangi
lalu para kurawa tertawakan

wahai, ketahuilah
apa yang pantas kuceritakan pada anakcucu nanti
jika para lelaki yang kucintai
tak lagi mampu untuk melindungi

wahai, ingatlah
akan selamanya kubiarkan gerai rambut ini
sampai darah kurawa kudapat nanti
untukku bisa bersuci!

pagi bertualang

pagi pun bertualang, membawa pergi kabut usang, dan telor setengah matang. mata nyalang, ingatan hilang. pagi amnesia, pada segala. sudah lama kita sapih bulan dan bintang, dan akan segera kita ceraikan matahari. biar hidup tak lagi untuk sembunyi, atau menyembunyikan kekalahan. anakanak berangkat ke sekolah, dan berharap dapat menemukan mimpi mereka di sana. ada di mana mimpi kita, apakah ada di jalan yang sama atau di ruang yang berbeda? pagi masih bertualang, dengan pedang di tangan. apakah ia tahu jalan kembali pulang?

jejak rindu

jejak rindu yang terekam dalam memoriku, masih hangat selayak kulitmu menyentuhku. sepanjang perjalanan dan jam-jam yang berlalu, selalu ada dirimu yang berkelebat dalam anganku. aku masih selalu membangun rinduku untukmu, dari putik-putik kembang randu. sebelum habis dibakar kemarau, sebelum serak suaraku parau. aku memanggilmu dalam nafas dan doaku, menjelmalah engkau di sekejap nyataku

17.8.11

sesekali

akan kuajak kau keluar
biar tak selalu ada di dalam kamar
berdua nikmati indah bunga
dan sejuk embun pagi
dan agar tak pucat kulitmu
terkena matahari,
sesekali

Untuk N

angin datang mengetuk daun jendela, mengabarkan sunyi. rintik hujan serupa bulu matamu, tahu betapa rindu mesti terlunaskan. maka : mendekatlah, sayangku, mendekaplah. telah kuletakkan kedua mataku di hadapanmu, agar tak sedetik pun aku tidak memandang wajahmu

Bawakan Saja Aku Seikat Bunga Yang Semerbak

sebelum perjalanan jauh yang hendak kautempuh, izinkan saja aku membasuh seluruh peluh di tubuhmu. biar tuntas segala risau dan kerinduan padamu, jadikan bekal sepanjang berjarak dariku. dan ketika tiba nanti waktu kepulanganmu, bawakan saja aku seikat bunga yang semerbak, sebab jiwa ini yang tak lagi mampu menahan gejolak

27.6.11

malam

malam, semua keindahan tersaji dalam gelap. suara jengkerik terdengar, meredam segala gusar. ada rindu yang selama ini rapi tersimpan, berontak ingin lepas dari segala ikatan. dan ingataningatan yang berloncatan, adalah aliran listrik yang menghidupkan segala perjalanan. tanpamu, aku terasa menjadi batu. tak bersuara, tanpa cinta.

18.6.11

tak ada puisi

tak ada puisi hari ini. ataupun esok nanti. sebab semua katakata telah menemui ajal. merupa dalam sesal yang kekal. dapatkah kau mendengar dentingan nadanada, dari piano tua di dekat jendela? di sanalah semua kejadian bermula, dan ujung perjalanan bermuara. kini, biarlah kunikmati sepi ini
/rahmatiah 'tya' prihartini/

[oase.kompas.com-Sabtu, 18 Juni 2011]

kelahiran

aku lahir dengan bayangan gelap yang menyertaiku, tempat aku sembunyi dari dunia yang mengutukku. menjadi batu di malam yang senyap, menjadi makam di udara yang lelap. iblis-iblis yang telah menguasai alam raya, lalu berpesta pora merayakan kemenangannya. dan siapakah yang dengan segera akan menolong, hanya anjing-anjing renta yang menjerit menggonggong. bahkan malaikat pun tak lagi bersegera, dan semakin dekat pula kusampai pada ajal tiba

17.6.11

pagi di november 14

telingatelinga yang bersuara nyaring, memaksa mata untuk terbuka. bunyi kendaraan yang melintas di jalan basah, mengusir sunyi yang biasa hadir. pagi yang basah, ya, setelah semalam hujan datang mengguyur tanah. mungkin juga, untuk menghapus jejakjejak yang pernah singgah : di rumahmu, di tubuhmu. sebegitu juga, kenangan yang tak lagi ingin engkau ingat, maka : lupakan saja

père-lachaise

maut telah menjadi sekutu, demikianlah bunyi akhir waktu. terputus sudah segala amal, tenggelam dalam keabadian kekal. lalu, apakah harus aku memohon ampunmu?

selamat tidur

pejamkan matamu, ini malam sudah larut. mimpi indahlah, tentang bintang, juga harapan. tidurlah lelap, hingga terbuai. biarkan kesunyian mengiringi istirahmu, menari dan bernyanyi. tidurlah tidur, sampai nanti tiba pagi, dan akan segera kau temukan matahari

15.6.11

bangku taman

berjalan keluar, melintas jalan basah, sisasisa hujan di ujung sepatu. seperti kenangan yang masih tertinggal, sepenggal cinta gagal. senja sudah lama menghilang, lampulampu menyala menggantikannya. taman di pingir kota adalah tujuan berikutnya, mencari sedikit tempat untuk bersembunyi, dan mencoba bermimpi. hanya bangku tersisa, aku diam di atasnya, memeluk kaki dan mendekap bayanganmu

hangus rindu

kadang aku ingin menghanguskan semua rindu, karena aku sudah merasa jemu : terhadapmu, juga cintamu. tak ingin lagi aku merasakan hangat pelukan, dan kecupan. tapi aku tak pernah bisa, tak pernah mampu. tak ada yang bisa mengganti, keberadaanmu di sini

kegaduhan

suara-suara yang terdengar, membuat kegaduhan dalam telinga. hentakan musik makin liar, melepaskan segala hasrat ke udara. perlahan otak mulai melupa, akan semua kepedihan yang terasa. di tanah tempat aku dilahirkan, oleh tipu daya dan ketidak berdayaan. lalu kemanakah perginya sinar matahari pagi, ketika sang kupu enggan singgah di dahan melati. mungkin sudah terhapus segala kerinduan, tentang keperkasaan pahlawan yang telah mati ditelan keadaan. adakah pertolongan yang akan datang kemudian, lalu sang waktu akan menghilang pelan-pelan

7.6.11

hari ini, aku ingin pergi

sepi melenggang dalam lengang. kosong dan hampa. tak ada suara, tak ada apaapa. mawar menyulut api dalam wanginya. menceritakan simfoni usang dari hati gersang. aku, tanpamu. kesunyian menjadi terang. menjadi tabir yang menyelimuti padang. ilalang tak bertepi. hari ini, aku ingin pergi

hujan

pada gelap yang datang setelah terang. tentang siapakah sebenarnya hujan nyatakan cinta. mungkin gadis manis di belakang jendela yang akan menjawabnya. ketika kenangan melintas sekejap diantara bayang

senja dermaga

senja runtuh, di dermaga kuberlabuh. abad berlalu, dan senyummu. jingga warna langit, rindu dada amuk sengit. engkau di sana, sepanjang kelana. seribu kenang memburumu, di sini kumenunggu

ruang hampa

berada dalam ruang hampa, dinding segala penjuru mengurungku. terdiam, termangu. rantai besi di kedua tangan dan kaki, hanya bisa berdiri. aku lemas, tanpa udara. aku gelap, tanpa cahaya. hanya sisa-sisa asa yang masih terjaga, hanya isi kepala yang tetap menyala. sebuah keyakinan, kau ada di sana : untukku

6.6.11

kisah dalam selembar potret

momen itu telah kauabadikan dalam lembar polaroid, mencabut sekumpulan memori dari benakmu, lupakan dan akan segera kautemukan : kebahagiaan dan kesedihan terekam di sana. lalu kau akan menjadikan alasan, kenapa kembang mawar tak tumbuh di batubatu, meski hujan setahun mengguyur bumi : penyesalan, bahwa kau telah mengakhirkan segala yang semestinya menjadi mula. "sayangku, aku menyayangimu sejak aku belum mengenalmu", demikian yang seharusnya kaukatakan kepada kekasih yang menunggu di ujung jalan, sesaat sebelum badai dan air bah menenggelamkan kotakota

29.5.11

bertepuk sebelah

ingatkah kau bagaimana mengeja : cinta? adalah sesuatu yang selama ini terlalu lama engkau simpan, dalam kabut malam diamdiam. lalu engkau akan tenggelam dalam kelam. ketika kekasih yang kaurindukan tak juga datang di hadapan. mungkin adanya hujan telah menyamarkan, airmata yang meleleh di pipi tak tertahan. dan kembali lagi sebuah tanya akan kaulesatkan : pada bintang di langit. adakah dendam rindu yang di dada menghimpit, berubah menjadi pahit? ah, sudahlah, mungkin beginilah jika rindu bertepuk sebelah

23.5.11

biarkan kabel itu tidur

tengah malam, bulan masih bulat. udara terasa panas, melumerkan segala isi otak. kabel-kabel yang dipaksa terus bekerja, seperti sedang berencana untuk memberontak. tak mau menghubungkan keinginan dan tindakan. diam, beku. segalanya menjadi buntu. aku terdiam, tanpa segala yang seharusnya menjadi milikku. semuanya telah menghilang, di luar kendaliku. adakah aku berarti, tanpa dirimu?

20.4.11

jeng,

harum bunga kopi ini, mengingatkanku padamu, jeng. kau bilang, kau tak yakin akan bisa melalui semua rintangan ini. kau tak yakin bisa melewati semua penghalang di depan kita. bagaimanapun aku berusaha untuk meyakinkanmu, kau tetap saja kukuh dengan pendirianmu. jeng, sampai kapan?

lelah

sudah lelah melewati semua perjalanan ini. ketika rantai kegagalan sudah membelenggu langkah kakiku, ketika terali keputus asaan sudah memenjarakan hatiku, ketika topeng kepasrahan sudah membungkam semua teriakku. apakah harus terus kulakukan perjalanan ini? ketika aku hanya bisa mencintai yang tak bisa aku miliki, ketika aku hanya bisa mengharapkan yang tak bisa aku dapatkan. apakah hanya akan aku dapatkan sepatah kata "sia-sia"? ataukah memang aku tak mempunyai teman seperjalanan

melupakanmu

belajar untuk melupakan
semua yang tentang engkau
tak ingin satupun
tersisa

biarlah, ikut bersama luka yang mengalir

tak ada lagi kenangan
telah tertimbun penat
karena terlampau dalam luka
yang tercipta

karenamu

[Yudhie Yarcho & Thomas More]

rindu dendam

rinduku berubah menjadi dendam. karam dan legam. menghitam. mengharu biru. menceritakan duka. juga airmata. tak berbalas cinta. tak berbelas kasih. sendiri. aku mengarungi keluasan dunia. tak berbatas. kesiasiaan tak berbentuk. waktu yang tak berpihak. memucat wajah harihari. tak ada mentari. tak ada esok pagi. sunyi. berbuku telah kurangkumkan kisah perjalanan. beribu kisah terurai. tak dapat kutemukan apaapa. tak bermakna. hanya sia kujelang. menjereng erang. dan sebuah tanya : "sampai kapan?"

16.3.11

keputusan

biar tuhan yang putuskan
ada di mana aku kelak
harus tertawa bersama nabi-nabi
atau menangis bersama para pendusta
biar tuhan yang tentukan
apakah aku layak ada di samping-nya

dia

dia tidak berada di dekat
dia tidak berada di jauh
dia tidak berada di sekitar
dia tidak berada di antara

tapi

dia ada bersama :
di sini
di hati

o, wahai

o, wahai
kau kutuk aku dengan akal dan pengetahuan
lalu kau beri pilihanpilihan
padahal sudah kau sediakan hukuman
untuk setiap jawab yang tersampaikan

o, wahai
lalu kau beri aku perasaan
yang sebenarnya adalah ombangambing permainan
hingga aku jadi makhluk yang gamang
dalam laku perbuatan

o, wahai
aku tahu lagakmu yang purapura tak perhatian
tapi diamdiam sudah siapkan jebakan
dalam sukses dan kemakmuran
dalam tahta dan perempuan

o, wahai
terkutuklah aku dalam hidup dan matiku
yang tak pernah mampu membalas cinta-mu