27.6.11

malam

malam, semua keindahan tersaji dalam gelap. suara jengkerik terdengar, meredam segala gusar. ada rindu yang selama ini rapi tersimpan, berontak ingin lepas dari segala ikatan. dan ingataningatan yang berloncatan, adalah aliran listrik yang menghidupkan segala perjalanan. tanpamu, aku terasa menjadi batu. tak bersuara, tanpa cinta.

18.6.11

tak ada puisi

tak ada puisi hari ini. ataupun esok nanti. sebab semua katakata telah menemui ajal. merupa dalam sesal yang kekal. dapatkah kau mendengar dentingan nadanada, dari piano tua di dekat jendela? di sanalah semua kejadian bermula, dan ujung perjalanan bermuara. kini, biarlah kunikmati sepi ini
/rahmatiah 'tya' prihartini/

[oase.kompas.com-Sabtu, 18 Juni 2011]

kelahiran

aku lahir dengan bayangan gelap yang menyertaiku, tempat aku sembunyi dari dunia yang mengutukku. menjadi batu di malam yang senyap, menjadi makam di udara yang lelap. iblis-iblis yang telah menguasai alam raya, lalu berpesta pora merayakan kemenangannya. dan siapakah yang dengan segera akan menolong, hanya anjing-anjing renta yang menjerit menggonggong. bahkan malaikat pun tak lagi bersegera, dan semakin dekat pula kusampai pada ajal tiba

17.6.11

pagi di november 14

telingatelinga yang bersuara nyaring, memaksa mata untuk terbuka. bunyi kendaraan yang melintas di jalan basah, mengusir sunyi yang biasa hadir. pagi yang basah, ya, setelah semalam hujan datang mengguyur tanah. mungkin juga, untuk menghapus jejakjejak yang pernah singgah : di rumahmu, di tubuhmu. sebegitu juga, kenangan yang tak lagi ingin engkau ingat, maka : lupakan saja

père-lachaise

maut telah menjadi sekutu, demikianlah bunyi akhir waktu. terputus sudah segala amal, tenggelam dalam keabadian kekal. lalu, apakah harus aku memohon ampunmu?

selamat tidur

pejamkan matamu, ini malam sudah larut. mimpi indahlah, tentang bintang, juga harapan. tidurlah lelap, hingga terbuai. biarkan kesunyian mengiringi istirahmu, menari dan bernyanyi. tidurlah tidur, sampai nanti tiba pagi, dan akan segera kau temukan matahari

15.6.11

bangku taman

berjalan keluar, melintas jalan basah, sisasisa hujan di ujung sepatu. seperti kenangan yang masih tertinggal, sepenggal cinta gagal. senja sudah lama menghilang, lampulampu menyala menggantikannya. taman di pingir kota adalah tujuan berikutnya, mencari sedikit tempat untuk bersembunyi, dan mencoba bermimpi. hanya bangku tersisa, aku diam di atasnya, memeluk kaki dan mendekap bayanganmu

hangus rindu

kadang aku ingin menghanguskan semua rindu, karena aku sudah merasa jemu : terhadapmu, juga cintamu. tak ingin lagi aku merasakan hangat pelukan, dan kecupan. tapi aku tak pernah bisa, tak pernah mampu. tak ada yang bisa mengganti, keberadaanmu di sini

kegaduhan

suara-suara yang terdengar, membuat kegaduhan dalam telinga. hentakan musik makin liar, melepaskan segala hasrat ke udara. perlahan otak mulai melupa, akan semua kepedihan yang terasa. di tanah tempat aku dilahirkan, oleh tipu daya dan ketidak berdayaan. lalu kemanakah perginya sinar matahari pagi, ketika sang kupu enggan singgah di dahan melati. mungkin sudah terhapus segala kerinduan, tentang keperkasaan pahlawan yang telah mati ditelan keadaan. adakah pertolongan yang akan datang kemudian, lalu sang waktu akan menghilang pelan-pelan

7.6.11

hari ini, aku ingin pergi

sepi melenggang dalam lengang. kosong dan hampa. tak ada suara, tak ada apaapa. mawar menyulut api dalam wanginya. menceritakan simfoni usang dari hati gersang. aku, tanpamu. kesunyian menjadi terang. menjadi tabir yang menyelimuti padang. ilalang tak bertepi. hari ini, aku ingin pergi

hujan

pada gelap yang datang setelah terang. tentang siapakah sebenarnya hujan nyatakan cinta. mungkin gadis manis di belakang jendela yang akan menjawabnya. ketika kenangan melintas sekejap diantara bayang

senja dermaga

senja runtuh, di dermaga kuberlabuh. abad berlalu, dan senyummu. jingga warna langit, rindu dada amuk sengit. engkau di sana, sepanjang kelana. seribu kenang memburumu, di sini kumenunggu

ruang hampa

berada dalam ruang hampa, dinding segala penjuru mengurungku. terdiam, termangu. rantai besi di kedua tangan dan kaki, hanya bisa berdiri. aku lemas, tanpa udara. aku gelap, tanpa cahaya. hanya sisa-sisa asa yang masih terjaga, hanya isi kepala yang tetap menyala. sebuah keyakinan, kau ada di sana : untukku

6.6.11

kisah dalam selembar potret

momen itu telah kauabadikan dalam lembar polaroid, mencabut sekumpulan memori dari benakmu, lupakan dan akan segera kautemukan : kebahagiaan dan kesedihan terekam di sana. lalu kau akan menjadikan alasan, kenapa kembang mawar tak tumbuh di batubatu, meski hujan setahun mengguyur bumi : penyesalan, bahwa kau telah mengakhirkan segala yang semestinya menjadi mula. "sayangku, aku menyayangimu sejak aku belum mengenalmu", demikian yang seharusnya kaukatakan kepada kekasih yang menunggu di ujung jalan, sesaat sebelum badai dan air bah menenggelamkan kotakota