30.7.13

sajak-sajak rimanews.com, 2 februari 2013



AKU MASIH BERSAMA KEHIDUPAN MASA KECIL

Aku masih bersama kehidupan masa kecil
masa kanak-kanak
bermain layang-layang,
mengulur benang,
mencoba menjadi pemenang
mobil-mobilan untuk lelaki,
boneka untuk perempuan
bermain bersama
lewat seperempat abad sudah,
tapi kenangan ini masih saja singgah
di saat anak-anak sekarang makin tenggelam
dalam permainan yang serba digital,
aku masih saja bermain halma dan ular tangga
entah bagaimana dengan anak-anak nanti,
masihkah mereka akan mengenali,
kampung halaman sendiri?

2009

LEBARAN

Nyala lampion
anakanak bermain petak umpet dihalaman
takbir bersahutan
suara petasan
tak ada hujan
secuil bulan
ini malam lebaran
masih perlukah bermaafan?

2009

MANUSIA

Manusiamanusiadenganstereotipeyangsemu
hilirmudikditengahabsurditaskota
mengejarmengaismeraihapapun
kesenanganhedoniskehidupanmaterialistis

2009

CERITA BAYIBAYI

Bayibayi amnesia
dan tangan bersenjata
terlahir dari rahim suci
menyusu pada matari
lalu,
kipas angin yang berputar lambat
kenangankenangan yang berkarat
luka yang dibebat
hidup yang sekarat
melarat!
orangorang berubah robot
berlaku sama
serupa!
bayibayi berjalan perlahan
menyusuri jalan dan loronglorong sunyi
kotakota yang tak berpenghuni
infrastruktur yang tak berfungsi
lalu,
bayibayi menembakkan senjata
membabi buta
membabi buta
kotakota menjadi tak berbentuk rupa
candicandi menjadi tanah rata
dan patungnya ada di manca negara
berkalungkan label harga
dan,
pulaupulau yang diabaikan
pahlawanpahlawan yang dilupakan
negara dirobohkan!

2009

ORANGORANG DALAM KEPALA

Orangorang dalam kepala
hilirmudik tak tentu arah
mulut mengoceh sumpah serapah

Sejenak tergagap dalam senyap
di nganga luka

Di jalan,
orangorang suci melenggang tenang
merasa paling bersih dirinya
tanpa sadar ia ternyata
selalu menyimpan septictank ditubuhnya

Di langit,
rajaraja berpesta pora
tergelakgelak tandaskan tuak
ditemani dayang
dan penari tak berpenutup dada

Sementara,
di bumi,
wajahwajah resah menjadi pengisi berita di koran pagi!

2009

LUKA SIAPA

Orang-orang masih sibuk dengan berita memuakkan
di televisi dan koran harian
para politisi masih bergelut dengan rapat anggaran
tak ada lagi yang perlu diributkan
bahkan tuhan pun tak lagi dipedulikan
lebih asyik bermain peran dan pura-pura perhatian

Ini luka menganga
punya siapa?

2012

TAK ADA JUDUL

Lihatlah, betapa pendek sumbu diri
hingga begitu mudah dibakar emosi

Sesama saudara saling melukai
sesama warga saling menghabisi

Tanah yang sudah tak lagi subur ditanami padi
menjadi lahan yang siap dipanen hasil korupsi

Tak beda lagi maling kelas teri atau berat
semua sama, rakyat atau pejabat

Inginnya menikmati hasil tanpa keringat
dianggap hidup di dunia tak ada kiamat

2010

sejumlah puisi di wawasanews.com, 25 januari 2013


RUMAH GARAM

Rumahrumah garam berdinding bambu
berdiri dalam diam dan ragu
menatap tambak yang sepi
dan laut di kejauhan yang menahan diri

Musim ini memaksa tambaktambak kami
kedinginan menahan gigil sebab hujan
dan rumah garam semakin sepi
petanipetani mulai meninggalkan

Kepada siapa hendak kuwariskan
ketika anakanak memilih pergi ke kota
mencoba peruntungan mengais harapan
apakah mimpi mereka ada di sana?

Desember 2012

PADA SIANG YANG PANAS

Di siang yang panas
bunyi sirine meraung-raung
kencang seperti gonggongan anjing hutan
entah apa yang terjadi di sini
pikiranku tak sedang ada bersamaku kini
 
Lalu, segerombolan orang tak beralas kaki melintas
melangkah dengan cepat di panas aspal jalan kota
melewati baliho besar bergambar pemimpin jumawa
: aku masih sendiri saja

Sudah lama kurindukan bau tanah yang tersiram hujan pertama
yang akan mengingatkanku saat-saat kecil waktu di desa

2012

PEKUBURAN

Kamboja tua yang tak lagi berbunga
rumput liar di permukaan tanah
di antara nisan tanpa nama yang murung berdiri
dan kidung doa yang berdengung sunyi

: Seorang bocah terlelap seorang diri

2012

RUMAH KAYU DI BAWAH RUMPUN BAMBU

Hari dimulai ketika menutup mata
ingatan-ingatan berloncatan
perjalanan panjang mesti ditempuh dengan tergesa
dan waktu yang tersisa tidaklah lama

Rumah kayu di bawah rumpun bambu
meniupkan ruh kehidupan pada jiwa-jiwa mungil
mengajarkan betapa hidup harus dijalani dengan sungguh
walau harus bersimbah darah dan peluh

Sejenak masa silam memerangkap
dari kerinduan yang hendak kautangkap
seribu pintu tak juga terungkap
dan lalu rapi tersimpan di balik tingkap

Kelebatan kenangan berlalu gelisah
lalu pelan-pelan waktu akan mencatatkan riwayat
sebuah kisah teronggok di mata basah
dan penyesalan bahwa perjalanan harus teramat berat

2012

MUNGKIN, AKU

Mungkin, aku adalah serangga
yang berdiam di dalam kepala
yang seringkali menghisap darahmu
hanya agar engkau tahu bahwa ada aku di situ

Mungkin, aku adalah pahit kopi
yang kauhidangkan saban pagi
agar sejenak hilang musnah kantuk di matamu
lalu bersegera membuatmu berlari dari kejaran masa lalu

Mungkin, aku adalah batu
yang kausimpan rapat di dalam hatimu
untuk kaubukakan pintu ketika tiba waktu
untukmu bertemu kekasihmu

Mungkin, aku adalah sebenarnya dirimu
yang tak pernah kauharapkan itu adalah aku

2012

BAIKLAH

Baiklah
mari kita kutuk musim ini
agar segera enyah segala luka dalam diri
lalu seumpama anak kecil
kau akan berlari mengejar pelangi
yang muncul setelah hujan pergi
hingga sampai di pinggir kali
yang airnya sejernih kaca
hingga kau dapat bercermin di sana
dan melihat ada taman bunga di atas kepalamu
atau binar-binar kebahagiaan di kedua matamu
mungkin kau akan segera tersentak
lalu tergagap sadar :
bahwa hidup terlalu indah
untuk dilewatkan dengan sedu sedan

Baiklah,
mungkin pula kau akan segera menutup jendela
agar angin senja yang begitu lembab
dan berbau asin garam
tak segera memenuhi paru-parumu
yang akan membuatmu muntah
dan alergi untuk menonton televisi
yang dengannya akan membuatmu berpikir
sendiri
“apa perlunya orang-orang suci itu ada di bumi?”

2012

BUKAN SENJA PENGHABISAN

Jika kali ini aku tak mengajakmu pergi
mungkin lain waktu itu akan terjadi
perjalanan melewati suka senang
dan juga gelisah muram, kadang

Lalu di lain waktu itu
mungkin akan kita temukan sajak-sajak
yang tertulis di prasasti batu untukmu
sebagai pemberi kabar ataupun penanda jejak

Ingatlah hari di mana senja tak lagi memusuhimu
bukanlah terakhir matahari itu tenggelam
sebab segala sesuatu adalah waktu
untuk kita menghapuskan dendam

2012

sejumlah puisi di kompas.com, 20 januari 2013


JALAN HIDUP
Tak ada cahaya di langit malam ini
hanya bunga api berkilat sesekali
tangis bayi yang menunggu suapan ibu
dan deru roda menggilas nasib burukmu

Segelas anggur yang manis di mulut
adalah jalan menuju pusat semesta
yang selalu kaucoba untuk mendapatkannya
meski mungkin seturut maut

Kehinaan dan ketenaran berjalan beriring
seperti para pelayat yang berdiam muka
di depan keranda dan doadoa
ketika tibatiba mata berpaling

Lalu apa yang dicatatkan pada buku amal
adalah kesiaan yang kaulakukan
mengulang segala tanya dan airmata
tanpa pernah tahu untuk apa

Hujan yang datang membasahi tubuhmu
mengaburkan luka dan tangis di wajahmu
bersukalah kaudapat rasa itu
meski kadang perih selalu hampirimu

Ada yang datang, ada yang pergi
demikianlah janji yang mesti terlunasi
tak perlu sesal dan ratap diri
terima saja nasib dan nikmati

-des12

POTRET DIRI
Aku tertunduk
terduduk sendiri
di bangku sepi
pada angin mati
terbayang segala
kegelisahan yang ada
dalam setiap langkah
yang terayun tertatih
mungkin aku sudah kalah
tercekam dalam penjara
idealisme yang terbuang
keinginan yang terkalahkan
apakah masih sanggup aku
tercenung di depan meja
sementara yang ada hanya
piring dan gelas yang sunyi
lalu harus kemana kuarahkan
pandang mata yang kosong
ketika tubuh mulai lemah terkulai
dan darah seakan sudah henti
luka ini begitu menganga
mengabarkan semua peristiwa dusta
yang dilakukan dengan sengaja
atau sekedar berpura-pura
mestinya tidak demikian menjemput ajal
bukankah pemakaman adalah sebuah pesta
yang patut untuk dirayakan?

2012

LAMPU JALAN DAN SEEKOR ANJING
Ia berdiri dalam kesendirian
menunggu kesepian
di bawah lampu jalan

Di trotoar berubin petak marmer hitam
ia mencoba berjalan melemaskan badan
sambil menghitung berapa lama menghabiskan
waktu yang telah terlewatkan

Ada sedikit harapan
yang ditunggunya akan datang
ketika sebuah mobil melaju pelan

Ia mencoba mengingat
kapan terakhir bersepakat
untuk bersama menghabiskan malam
berdua dengan berjalan-jalan di taman

Kadang ia sungguh merasa bosan
menunggu dibatas kesanggupan
namun dengan penuh keyakinan
ia akan melunaskan apa yang dijanjikan

Lamat-lamat ia mendengar gumam
nyanyian kidung puja-puji mengalun merdu
tak terlampau jauh dari telinganya yang panjang
dan sebuah berkah yang tak terkirakan
: kekasih yang datang membawa senyuman

2012

DAN SEGALA HAL TERLUPAKAN
Dan di antara lembar kertas yang terlupakan
abjad berloncatan di sepanjang perjalanan
kesunyian telah menjadi tabir yang menyelimuti
mengabadikan kebekuan pada seluruh situasi


Kini, engkau mulai mempertanyakan tentang kemerdekaan
seperti kemenangan yang sudah lama kaurindukan
janji dan garansi yang terlalu banyak disampaikan
tak satupun dapat kautemukan,
hilang tak berbekas di simpang jalan


Di mana getar hati ketika kekasih hendak pergi
demikianlah isi kepala yang setia menggerogoti
lalu angin senja berhembus dengan kencang
dan segala hal menjadi dengan gampang terlupakan

2012

RINDU:BATU
Ada rindu yang datang dari batu-batu
yang berserak tak tentu
yang akan membawamu ke rumah
untuk sebentar singgah
atau ziarah

Lalu ia jatuh pada kedua matamu
menjadi kenangan pada ibu
kepada semua kenang yang bermukim
dan berlindung di segala musim
: Ibu yang kau rindu
  di sepanjang hayatmu

2012

AKHIR BULAN KE SEMBILAN
Daun jati gugur di sungai yang kering
akhir bulan ke sembilan tahun ini
dan hujan belum juga turun membasahi tanah
pohon-pohon meranggas rontok daun
rumput kering, berwarna pucat kuning
mata air sudah sekarat

Tak ada lagi gunung-gunung
tak ada lagi burung-burung
angin pun seakan sudah enggan berhembus
meski hanya untuk sekedar membasuh keringat
di wajah yang lusuh

Musim ini kami tidak panen
kemarau membakar habis lahan pertanian
sementara irigasi tak lagi berfungsi
karena tak ada air yang mengalir

2012

1.4.12

aku, pulang

aku pulang,
ibuku, tanahku, perempuanku
ke haribaan pangkuanmu
kepada segenap belas hatimu
engkaulah sumber semangat dalam menjalani hidup
pengorbananmu tak terganti,
walau darah mengucur dan jiwa lepas pergi,
dari raga ini.

aku pulang,
ibuku, tanahku, perempuanku
izinkan kumembasuh segala keluh
yang telah sekian lama mukim di wajahmu
membilas airmata di setiap perjalanan mendewasakanku

aku pulang,
aku pulang,
aku,
pulang

surga di atas langit, neraka di dasar bumi

mereka sibuk membangun menara-menara,
dan berharap menemu bahagia
: apakah tuhan ada di sana?

mabuk anggur dan pesta pora,
merayakan kebebasan dalam hingar,
hingga fajar melupakan segala kekuatiran

di bawah menara,
seorang anak kecil tenggelam dalam hujan,
kuyup gigil seluruh badan

mata terpejam,
kotak semir lusuh di pangkuan
: mungkin, hari ini jibril tak datang

teringat emak pesan terngiang
: jangan terlambat pulang dan bawa uang,
  untuk tebus obat di warung sebelah