31.7.17

Ibuk

Ibuk sudah pensiun delapan tahun yang lalu dari pekerjaannya yang dulu di sebuah kantor pemerintahan di kota kecil di pesisir Jawa Tengah.

Dengan uang pensiun yang diterimanya setiap awal bulan, ibuk harus pintar-pintar mengelola keuangannya, agar tidak selalu nombok atau tekor di akhir bulan. Pendapatan yang tidak seberapa itu selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari; bayar listrik dan air, beli gas, beli sembako juga cicilan perumahan yang sekarang kami tempati. Belum lagi kalau ada undangan tetangga atau kerabat yang punya hajat, mau tidak mau harus mempersiapkan dana tambahan untuk amplopnya.

Keadaan yang demikian itu membuat ibuk berusaha mencari jalan lain untuk dapat menambah sedikit pemasukan bagi keluarga ini. Dan dengan keterampilannya yang sudah dikuasai sejak beliau masih smp, ibuk lalu mulai merajut. Ibuk membuat berbagai barang rajutan mulai dari dompet, tas hingga peci.

Awalnya barang-barang hasil rajutan itu hanya ditawarkan kepada kerabat atau kenalan ibuk saja, lalu lama kelamaan meluas menjadi ke banyak orang. Tidak pernah ada promosi khusus yang ibuk lakukan, hanya dari mulut ke mulut.

Dengan tekun dilakukannya kesibukan itu sepanjang hari. Bahkan karena lelahnya, kadang ibuk sampai tertidur di kursi sambil tangannya masih memegang rajutan yang belum selesai. Melihat hal seperti itu lantas menimbulkan rasa kasihan dari kami, anak-anaknya.

"Ibuk sudah sepuh. Sudah waktunya istirahat, menikmati hari tua sambil melihat cucu-cucu  dengan bahagia. Ibuk mbok gak usah merajut lagi", kata Intan, anak bungsu ibuk.

Tapi apa jawab ibuk?

"Ibuk gak mau menyusahkan kalian. Biar ibuk lakukan apa yang bisa ibuk kerjakan untuk membantu meringankan beban kalian. Ibuk gak ingin menjadi benalu yang hanya bisa merepotkan kalian saja!", jawab ibuk tegas.

Kalau sudah begitu, ibuk kemudian diam dengan mata yang berkaca-kaca, lalu akan bilang, "Ibuk menyesal tidak bisa memberi kalian bekal hidup yang banyak, sehingga tidak perlu bersusah payah seperti sekarang. Biarlah ibuk terus merajut, semoga dengan ini ibuk bisa menebusnya".

Mendengar perkataan ibuk tersebut, kami lalu tertunduk menahan isak tangis yang hampir saja selalu gagal kami tahan. Dalam hati lalu kami berkata, "Maafkan kami ibuk, yang belum bisa membalas budi baik pengorbananmu. Maafkan kami yang belum bisa membahagiakanmu".

***

Sudah dua hari ini ibuk tidak merajut. Badannya demam dan tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Intan harus mengambil cuti sampai 7 hari ke depan agar bisa leluasa merawat ibuk.

"Kamu tidak usah khawatir, ibuk baik-baik saja. Mungkin ibuk lelah, hanya butuh istirahat saja. Mana anak-anakmu, Yusuf dan Kamila? Ibuk rindu ingin memeluk mereka", kata ibuk sambil tersenyum.
"Mereka ada di depan buk, sedang mainan sama anaknya mas Putra. Nanti setelah mandi biar mereka menemani ibuk di sini"
"Buk, maafkan kami yang belum bisa membahagiakan ibuk di hari-hari yang seharusnya ibuk sudah menikmati buah dari benih yang ibuk tanam. Maafkan kami yang masih saja selalu menyusahkan ibuk dan juga bapak", lanjut Intan sambil meneteskan air matanya.
"Sudah, gak usah dipikirkan. Kalian tidak usah khawatir soal ibuk. Ibuk ikhlas merawat kalian", jawab ibuk sambil tersenyum.

***

29.5.17

Panggung Sastra: Suara Yang Menyala

Listrik yang sempat padam tidak menyurutkan orang-orang untuk datang ke lokasi acara Panggung Sastra Antologi Pendhapa 21 yang bertajuk "Suara Yang Menyala", yang bertempat di Pondok Pesantren Nailun Najjah Assalafy, Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara pada hari Rabu tanggal 24 Mei 2017.

Panggung Sastra Antologi Pendhapa 21 adalah semacam launching dari buku kumpulan puisi yang berjudul "Suara Yang Menyala", yang berisi puisi dengan beragam tema dari 11 orang penyair dari kota-kota di pantura Jawa Tengah, yaitu berasal dari Jepara, Kudus, Pati dan Rembang.

Mereka adalah Abdi Munif, Aloeth Pati, Alie Emje, Arif Khilwa, Asa Jatmiko, Asyari Muhammad, Bambang ES, Saliem Sabendino, Lelly Mettawati Widjaja, Yudhie Yarcho dan Zamroni Allief Billah.

Wijang J Riyanto in action

Sekitar jam 20.00 WIB acara dibuka dengan sambutan dari tuan rumah, kemudian dilanjutkan pengantar dari Taman Budaya Jawa Tengah selaku pemrakarsa acara ini, yang dalam hal ini diwakili oleh Wijang J Riyanto, yang seusai memberi kata pengantar beliau kemudian berpuisi.

Seperti disampaikan oleh Wijang J Riyanto, bahwa "Pelaksanaan kegiatan dengan berkeliling dari empat penjuru provinsi Jawa Tengah ini dimaksudkan agar sastra tidak hanya dinikmati dan diapresiasi oleh masyarakat di pusat-pusat kota, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat di manapun berada. Karya-karya yang terdapat dalam buku-buku yang diterbitkan tidak hanya tersimpan di Taman Budaya Jawa Tengah saja, melainkan juga disimpan di perpustakaan dunia seperti di Leiden, Cornell dan Washington."

Acara kemudian dilanjutkan dengan parade pembacaan puisi dari masing-masing penyair yang puisinya terdapat dalam buku antologi pendhapa 21 "Suara Yang Menyala".

Di tengah-tengah acara, hadirin sempat dikejutkan dengan kehadiran Bapak Marzuki, Bupati Jepara. Kemudian beliau didaulat untuk memberi sepatah-dua patah kata, dan tak hanya itu, beliau juga sempat bersyair.

Selain parade puisi dari para penyair yang ikut dalam antologi tersebut, acara dilanjutkan dengan penampilan dari beberapa penyair tamu, satu di antaranya adalah Kartika Catur Pelita, seorang penulis asal Jepara yang sudah menulis ratusan judul cerita pendek dan menerbitkan novel.

Kartika Catur Pelita sempat mengungkapkan kegelisahannya mengenai ketidak tahuan bapak Bupati Jepara tentang Akademi Menulis Jepara, juga betapa susahnya menerbitkan buku untuk penulis-penulis Jepara.

***

Acara selanjutnya adalah diskusi yang dipandu oleh Udik Agus DW,  ketua Dewan Kesenian Daerah Jepara dan pembicara Sunardi KS, seorang penulis senior dari Jepara, dengan tema "Sastra Yang Terpinggirkan."

Menurut Sunardi KS, "Banyak orang keliru beranggapan soal sastra dan sastrawannya, dianggap lusuh, garang, kontra dengan penguasa dan banyak lagi lainnya. Itu karena mereka jauh dari sastra. Padahal banyak juga sastra yang romantis dan relijius."

Kemudian Sunardi KS menyitir kata-kata yang berkait paut soal kepenyairan, yang pada intinya bahwa "Penyair menyeret beban dari sunyi ke bunyi bahasa. Akan gila seorang penyair yang diam memendam perkataan. Dan siksa penyair itu tak pernah berhenti."

Bagi Sunardi KS,  "Antara penyair dan puisi adalah sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan."

Menurut Sunardi KS, "Terpinggirnya sastra barangkali karena kesalahan penyairnya sendiri. Penyair sering menulis sesuatu dengan kata-kata yang terlalu sulit dipahami oleh orang lain."

Kemudian dialog dibuka dengan beberapa penanya yang masing-masing menanyakan atau bahkan menyuarakan kegelisahan soal dunia literasi di Indonesia yang tidak berjalan dengan semestinya. 

Ada salah seorang peserta diskusi yang menyatakan bahwa "Apresiasi terhadapp sastra di indonesia begitu memprihatinkan, sehingga sastra menjadi terpinggirkan."

Udik Agus DW selaku moderator sempat juga menyampaikan tentang rendahnya minat baca anak-anak sekolah di Indonesia, "di Amerika atau Rusia minat baca cukup besar. Tapi di Indonesia? Kecil sekali", katanya, yang kemudian ditanggapi oleh seorang peserta. "Apakah yg jadi masalah itu minat baca? Atau keterjangkauan bacaan?".

Ketika waktu sudah menunjukkan jam 24.00 WIB, acara kemudian ditutup dengan doa shalawat dan tarian sufi.

***
-- pada akhirnya: dari sepi kembali ke sepi.

11.4.17

INGATAN YANG BERJATUHAN, Sebuah Kumpulan Puisi

 
INGATAN YANG BERJATUHAN
 mungkin akan ada setumpuk penyesalan
melihat kawan yang tak sejalan
harus berpisah di persimpangan


ketika haluan sudah tidak dipertemukan
akankah tetap kaukenali nyala api kekanakan
yang terus saja mengorbit di dalam kegelapan

lalu serentak tanpa pernah kauperkirakan
ingatan berdentum keras berjatuhan
seperti bendabenda yang selalu erat kausimpan

kemudian mendadak hilang lekas,
tanpa bekas

Penulis: Yudhie Yarcho
Penyunting: Thomas More
Tebal: viii + 74 halaman bookpaper 14 x 21 cm
Cetakan Pertama: April, 2017
ISBN: 978-602-60211-9-9
Harga: Rp. 40.000

Silakan kontak Pataba Press
atau mas Beni Santoso di 0899 5675 895 (WA/SMS)

30.12.16

Kepada Siapa

Kepada siapa rindu ini akan sampai
angin kemarau di antara ranting kering
rekah tabah hamburkan debu-debu
di mana segala tanya ini akan usai?

Kepada siapa rindu ini akan sampai
embun pagi bercampur rintik hujan
tanah basah dan kodok sawah
hendak ke mana terbawa risau ini?

Jika hati yang menanti sedang galau
bersegera mencari tempat bernaung
dari segala goda dia berlindung
menunggu kekasih datang menyanjung

5.12.16

Membaca Peta di Tubuhmu



berulang kali kulalui jalan yang sama
semak perdu dan belukar di pematang
serta onak duri yang menghadang

mencoba merengkuhmu adalah ujian
bagi setiap kesabaran yang kauletakkan
di sisi-sisi jalan yang ada di hadapan

namun tak pernah selesai ini perjalanan
mungkin kaulupa atau memang sengaja
tak meninggalkan isyarat atau tanda-tanda

: untuk bisa kubaca