13.2.19

Barangkali: Variasi

Barangkali karena terlalu bising
abjadabjad berloncatan
jungkir balik berakrobat
tidak membentuk kata
tidak menyusun kalimat
tidak memberikan makna.

Barangkali karena terlalu sedih
bungabunga enggan didekati lebah
terlalu parah luka hati diderita
tak pernah lagi membuka pintu
tak pernah lagi mengecup embun
tak pernah lagi menghias diri.

Dan karena beberapa sebab
barangkali ini bukanlah puisi.

4/1/18

12.2.19

Omong Kosong

ada yang mendesak
ingin dikeluarkan segera dari otak
yang sudah panas 
terlalu lama menyimpan ampas 
memutar omong
yang berbunyi kosong 
lalu menyembunyikannya
di kolong meja 
seperti gerombolan para pengecut 
yang mengkeret takut 
melihat moncong senjata 
yang mencari mereka 
setelah mulutnya 
nyerocos tak tertata 
lontaran katakata 
umpatan dan prasangka 
tentang tingkah penguasa 
paling agung dan bijaksana 
meski suka menginjak
membuat muak
lantas bagaimana dengan 
anakanak yang dilahirkan 
menanggung hutang negara 
yang sampai habis usia 
baru bisa dilunaskan 
entah dengan apa 
nanti dibayarkan.

6.1.19

9.8.18

Usai Menonton Teater

tak ada engkau di antara semua
ketika lakon tentangmu usai diperankan
dan rasa rindu yang meringkusnya.

ada rindu yang tak terkirakan
ketika tentangmu semua puisi dituliskan
dan peran yang mesti dimainkan.

Tak Lagi Peduli

tak lagi peduli aku 
pada semua yang mereka omongkan 
karena aku sedang mencoba 
untuk lebih menyayanginya. 

tak lagi peduli aku 
pada semua yang mereka lakukan 
karena aku sedang mencoba 
untuk lebih mencintainya.

dalam setiap nafas hidupku 
hanya satu tertuju selalu di sisinya 
dalam setiap lembar hariku 
hanya satu tertuju selalu bersamanya. 

tak lagi peduli aku 
pada semua yang mereka bicarakan 
karena memang mereka tak tahu 
begitu sangat aku mencintainya

4.5.18

Tentang Yayasan Lembayung


Berikut sekilas tentang Yayasan Lembayung sebagaimana dikutip dari apa yang disampaikan oleh Winahyu Widayati (Pendiri sekaligus Ketua Yayasan Lembayung Kalinyamatan) tentang awal mula dan sejarah berdirinya Yayasan Lembayung. Silakan disimak.

Ide membuat rekor MURI yang digelar oleh Lembayung Production pada tahun 2004 adalah hasil bincang-bincang mas Nur Hidayat, Rini dan saya. Singkat cerita, kala itu kami ditantang mas Nur untuk membuat rekor muri, guna meramaikan pasar kerajinan yang waktu itu mas Nur, dkk yang dipasrahi untuk mengelola. Kemudian terbentuklah nama Lembayung Production sebagai bendera/ EO yang akan kita pakai untuk mengusung rekor MURI yang berkaitan dengan lampion/ impes.

Nama Lembayung sendiri adalah hasil kesepakatan saya dan Rini. Berdua kami berdiskusi bahkan berantem karena mempertahankan ide masing-masing tentang bentuk acara, hingga menjadi sebuah proposal. Dalam prosesnya kami dibantu oleh Solikhul Huda dan kawan-kawan dari Sanggar Kreatif, juga kawan-kawan yang tinggal di sekitar Kalinyamatan. Alkhamdulillah, rekor MURI bisa kami buat dengan dukungan penuh dari Pemkab Jepara yang waktu itu bupatinya masih pak Hendro Martojo, dan warga Kalinyamatan sebagai arak-arakan pembawa lampion terpanjang. Peserta arak-arakan mencapai 3.000 orang lebih pada waktu itu.

Tahun berikutnya, karena tidak mungkin lagi menggelar rekor MURI, kami menggelar pesta baratan, dengan iring-iringan Ratu Kalinyamat dan dayang-dayang (yang merupakan ide dari ibu Dyah Hadaning, seorang seniman wanita dari Jepara yang tinggal di Bogor), dengan di belakangnya diikuti oleh anak-anak pembawa lampion/ impes perwakilan dari desa-desa di Kalinyamatan. Alkhamdulillah, Pesta Baratan dapat terus berlangsung setiap tahun hingga tahun ini. Pesta Baratan vakum tidak digelar hanya 2 kali, yakni tahun 2009, karena saya harus mempersiapkan pernikahan saya yang waktunya juga di bulan Sya'ban dan tahun 2012.

Demikian penjelasan saya, selaku ketua dan pendiri Yayasan Lembayung Kalinyamatan, semoga bisa meluruskan kesimpangsiuran yang terjadi, dan semoga pihak-pihak yang mengklaim dirinya sebagai pelopor atau pembuat sejarah yang kaitannya dengan Lembayung dan Pesta Baratannya, bisa legowo dengan sejarah yang tidak mungkin diubah. Mohon bantu share agar sampai ke pihak-pihak yang belum paham sejarah Lembayung.

Kita berkarya, maka kita ada.

Ttd.

Winahyu Widayati