Showing posts with label teks. Show all posts
Showing posts with label teks. Show all posts

22.8.25

Adalah Ia

Image by Dani Géza from Pixabay 


ia yang terlelap

    sedang berbincang

    dengan yang

    di dalam dan luar

    diri.


takdir tercatat

    sejak pertama hari 

    didatangkan

    dari hangat

    rengkuhan.


kepada siapa

    ia akan memberi

    makna.

28.4.23

Sebab Ini Tentangmu


Image by Larisa Koshkina from Pixabay


Tak ada yang perlu dicemaskan

selagi embun masih menitik

di ujung daun pagi.


Sebab ini tentangmu

kebaikan yang sempurna

bagai cerah cahaya.


Tak ada yang patut disembunyikan

kebahagiaan telah datang

sinar yang terang.

15.4.23

Aku Benci Segala Hal Yang Kubenci

Image by Gordon Johnson from Pixabay


Aku membenci segala hal yang kubenci, tapi 

walaupun demikian, bukannya tidak ada 

hal yang kusuka.


Aku menyukai segala hal yang kusuka, tapi 

walaupun demikian, bukannya tidak ada 

hal yang kubenci.

4.2.22

Kabar Duka Langit Pagi

 Hampir saban hari langit pagi di desa kami selalu diiringi dengan kabar duka cita; berita kematian dari salah seorang warga kampung. Seperti pagi ini, kabar duka kembali mengumandang di langit desa kami. Mbah Maryamah yang rumahnya sekitar 5 rumah dengan rumah yang saya tempati, dikabarkan meninggal dunia pada dini hari tadi.

 Jodoh, rezeki dan maut merupakan salah tiga dari beberapa rahasia yang dimiliki oleh Sang Pencipta. Kita sebagai makhluk ciptaannya tidak bisa memprediksi atau memilih apa yang bakal kita terima atau apa yang akan menimpa kita. 

 Sebagaimana halnya dengan percintaan, soal maut pun demikian. Kita mungkin bisa memilih untuk mati dengan cara yang baik, kata orang-orang mati secara husnul khotimah, tetapi kita tetap tidak akan tahu bagaimana dan kapan waktunya kita akan mati.

 Setiap hari pasti akan ada orang yang mati, dan yakinlah bahwa setiap hari pula ada yang dilahirkan. Akan selalu tercipta keseimbangan. Entah bagaimana caranya.

claude05alleva


14.12.21

Kupu-kupu Bersayap Putih Keperakan

Seekor kupu-kupu masuk ke dalam rumah. Badannya kecil sayapnya berwarna putih keperakan. Ia beterbangan ke sana ke mari. Lalu hinggap sejenak di sembarang tempat. Di tembok, di atas televisi, di gagang pintu, bahkan di tubuhku. 

Awalnya tidak terasa mengganggu, maka kubiarkan saja ia berterbangan di dalam rumah. Hanya kuhalau saja sesekali, ketika kuanggap dia sudah cukup sedikit mengganggu.

Dua hari ini kupu-kupu itu masih saja berkeliaran di rumah. Kadang di ruang tengah, masuk kamar tidur atau bahkan di dapur. Seperti seorang penyusup yang sedang menyelidiki seluk beluk apa yang ada di dalam rumah ini. 

Pada hari ke tiga, tiba-tiba berdatangan beberapa kupu-kupu yang lain. Kupu-kupu dengan ciri-ciri yang sama dengan yang sudah ada sebelumnya. Badannya kecil, sayapnya berwarna putih keperakan.

Mulanya datang 2 ekor, lalu menjadi 4, kemudian 8, 16, 32, dan seterusnya hingga rumah ini menjadi terasa penuh sesak dengan kehadiran mereka.

Kupu-kupu itu yang awalnya tidak terasa mengganggu, kini mulai menjengkelkan. Mereka enak saja hinggap di bantal, di kasur tempat biasa aku tidur. Menutupi layar televisi ketika sedang menyala, tapi pergi ketika televisi dimatikan. Beterbangan ke sana ke mari hingga mengganggu pandangan mataku ketika aku sedang membaca buku. 

Rumah ini terasa seperti dikurung oleh mereka. Kupu-kupu kecil berwarna putih keperakan. 


Di hari ke empat dihitung sejak pertama kali kedatangannya, kucoba menghalau, mengusir bahkan membasminya. Kugunakan segala cara yang terlintas di pikiranku pada saat itu. Mulai dari mengejar dan memukulinya menggunakan sapu, menyemprotkan pestisida hingga mengusir menggunakan asap melalui petugas fumigasi yang kuundang pagi tadi. 

Tapi tidak ada hasil yang signifikan. Jumlah mereka seakan tidak berkurang, bahkan semakin bertambah kurasa. Mereka menemukan markas di sini, membuat koloni di sini, di rumahku. Sementara aku tak ubahnya seorang pengungsi yang terusir dari negerinya sendiri.

Kucoba minta pertolongan seorang dukun untuk mengusir mereka dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya. Namun tidak juga berhasil. Bahkan mereka kini semakin berani menginvasi rumah ini. Aku tidak lagi leluasa berada di tiap ruangan dalam rumah ini. Praktis tempat yang paling bisa kukuasai hanya di kamar mandi. Itupun setelah semua lubang kututup rapat menggunakan selotip.

Di hari ketujuh, aku ingat harinya adalah hari Minggu. Tiba-tiba dari dalam kamar mandi aku mendengar suara hingar bingar di ruang televisi. Ada suara semacam pidato-pidato dan orasi. Setelah kudengarkan dengan seksama, ternyata benar itu adalah suara orasi. Dan lamat-lamat kudengarkan pula bahwa mereka merencanakan untuk menginvasi kota ini, setelah terlebih dahulu menguasai sepenuhnya rumah ini.

Lalu kudengar suara berkepak mendatangi pintu kamar mandi, mereka secara berombongan menabrakkan diri ke pintu kamar mandi, mencoba untuk menjebol dan membukanya. Kupertahankan sekuat tenaga, tapi ternyata kekuatanku berkurang banyak akibat tidak adanya asupan energi yang masuk ke tubuhku karena aku terkurung beberapa hari di dalam kamar mandi ini.

Perlahan tubuhku mulai melemah, kekuatanku mulai goyah. Tubrukan-tubrukan itu semakin keras. Pintu kamar mandi mulai goyang, lalu membuka sedikit demi sedikit. Tubuhku yang sudah lemah dan lelah kemudian diangkat dan dibawa ke ruang tengah yang sekarang sudah berubah menjadi semacam ruang interogasi. Lalu aku didudukkan di sebuah kursi seperti seorang pesakitan. Dan sebelum sempat kudengarkan kata pertama dari pemimpin kupu-kupu kecil bersayap putih keperakan itu, aku sudah tidak sadarkan diri. []

Hari Yang Patut Diselamatkan

        Hari Minggu pagi ini aku terbangun dengan paksa di antara kepulan asap dari sisa rokok yang sempat kuhisap dini hari tadi. Ya, aku berangkat tidur satu jam yang lalu dan kini sudah terbangun karena dikejutkan oleh kegegeran yang ada di luar kamarku.

        Suara perempuan tua itu terdengar jelas sedang marah dan gerutuannya ditujukan kepadaku. Katanya sudah hampir tiga bulan ini uang sewa bulanan belum kulunasi, ditambah lagi tumpukan baju kotor yang menggunung di dekat sumur.

        Sebenarnya ingin segera kubungkam mulut embernya itu, kemudian kulipat tubuhnya dan akan kuangkat lalu kubawa keluar untuk kutempelkan ke tiang listrik. Agar orang-orang yang lewat mengira ia sedang memeluk tiang listrik itu.

        Tapi, ah tidak. Otakku masih waras. Biar saja ia mengomel sepuasnya. Toh nanti kalau sudah capai ia akan diam sendiri. Biar kunikmati saja omelannya pagi ini asalkan masih bisa diiringi dengan irama musik dangdut. Lalu segera saja kuputar lagu-lagu Via.

        Dan kucoba untuk lanjutkan tidurku lagi. Toh tidak ada apapun yang perlu kutunggu.


15.1.21

TANPAMU

perahu tak bersauh

melaju bebas ke tempat jauh

: tanpamu, mengaduh.


01/01/2021

15.4.19

Kesempatan

Apakah selamanya hijaunya gunung nun jauh di sana akan dapat kaunikmati indahnya? Apakah selamanya beningnya embun di pucuk daun akan dapat kaunikmati sejuknya? Mungkin pernah terlintas di kepala bahwa apa yang ada di depan mata akan menjadi milik kita selamanya. Mungkin pernah tersirat di lelaku bahwa apa yang ada di keseharian akan menjadi hak kita selamanya.

Udara segar, air bersih, cuaca cerah, hangat sinar matahari, berita bahagia, kabar baik, kicau burung, nyanyi jengkerik, tawa kanak, dongeng riwayat, serta masih banyak hal lagi yang patut kita simpan dan kenangkan. Akankah selamanya itu ada?

Apakah selamanya kesempatan yang sudah diberikan seluasnya akan dapat kauhikmati?

6/1/18

13.2.19

Barangkali: Variasi

Barangkali karena terlalu bising
abjadabjad berloncatan
jungkir balik berakrobat
tidak membentuk kata
tidak menyusun kalimat
tidak memberikan makna.

Barangkali karena terlalu sedih
bungabunga enggan didekati lebah
terlalu parah luka hati diderita
tak pernah lagi membuka pintu
tak pernah lagi mengecup embun
tak pernah lagi menghias diri.

Dan karena beberapa sebab
barangkali ini bukanlah puisi.

4/1/18

8.2.18

Catatan Perjalanan



[Di Gereja]
Mobil-mobil mewah berjajar rapi di halaman gereja, satu-satunya tempat ibadah yang kutemui di sini. Misa sore ini penuh sesak dengan para jemaat. Ayah ibu beserta anak-anaknya, kekasih-kekasih dan orang-orang lainnya. Aku duduk di barisan kursi paling belakang. Ujung sebelah kiri.

Kutbah dimulai, aku mulai mengantuk dan tertidur. Seperti ketika aku mengikuti acara-acara sejenis di masjid, pura atau vihara. Ritual yang sama, nama yang berbeda.

Aku tidak mendengar apa-apa, aku tidak tahu apa-apa. Terakhir yang sempat kuingat sebelum aku terlelap, hanya kata-kata si pengkutbah, yaitu “dia datang membawa kabar keselamatan”.

[Di Pusat Kota]
Berjalan di jam-jam sibuk, pengunjung tampak ramai memadati pusat perbelanjaan, café, resto, juga taman. Masuk ke café, aku merasa seperti dilemparkan kembali ke masa-masa lampau. Waktu yang membeku. Memori yang bisu.

Keriput di langit-langit café ini menyiratkan begitu lama kau dan aku menapaki perjalanan ini. Begitu juga dengan rekahan yang tampak di dindingnya. Akankah mengisyaratkan akhir dari cerita ini?

Aku berlama-lama tenggelam dalam keharuman kopi, sambil terus berusaha mengulang kembali memori tentangmu. Tapi, tak pernah bisa. Ada tabir yang menyelimuti. Seperti potret muram dalam pigura berdebu, di sudut café ini.
Dini hari, belum subuh. Udara masih menyisakan malam. Di jalan, tampak genangan air di beberapa tempat, bekas hujan. Jalan masih sepi, toko-toko masih belum bangun berdiri, dan suami-suami masih sembunyi di pangkal paha istri-istri mereka atau kekasih yang lain.

Kota ini masih sama seperti beberapa waktu yang lalu. Bangunan-bangunan kuno berarsitektur eropa peninggalan Belanda, masih tegak berdiri. Hanya fungsinya saja yang berubah. Bangunan-bangunan itu dulu digunakan sebagai kantor negara, tapi sekarang sudah banyak yang berubah menjadi hotel dan swalayan.

Air mancur di taman kota tampak berkilau keemasan, tertimpa sinar bulan. Dulu, aku pernah berpelukan dan berciuman dengan kekasihku di taman ini. Entah, berada di mana ia sekarang.

Di bawah lampu di depan bangunan bekas kantor pos yang sekarang sudah menjadi swalayan, sepasang gelandangan tertidur beralas berita-berita di koran, sambil berpelukan. Berselimutkan embun dan cahaya bulan. Ah, alangkah bahagianya mereka, yang tak terbebani dengan segala macam tafsir dan pengertian. Tentang norma dan etika. Tentang apa saja.

Di seberang jalan, tepat di depan bangunan bekas kantor pos itu, berdiri tegak gedung setinggi 15 lantai dengan dinding berwarna kuning yang tampak mencolok dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang lain. I’Hotel, namanya. Di mana pada tanggal 12 Agustus, 19 tahun lalu, Jean-Michel Basquiat ditemukan tewas setelah mengkonsumsi heroin hingga overdosis.

Sebuah mobil lewat. Pelan-pelan. Seperti kenangan yang akan segera menghilang. Perlahan-lahan.

[Di Stasiun Kereta Api]
“Semir bang?”
“Tidak usah. Duduk saja di sini, kita ngobrol”.

Kami duduk di bangku depan stasiun, sementara orang-orang yang hendak bepergian sibuk berlalu lalang. Antrean masih panjang di depan loket. Dan calo-calo yang menawarkan tiket dengan harga dua kali lipat lebih mahal.

“Kamu tidak sekolah, kenapa?”
“Untuk apa sekolah? Hanya akan menyusahkan ibu dan ayah. Saya ingin membantu ibu dan ayah”.

Ah, anak sekecil ini harus membanting tulang mencari uang. Bagaimana dengan “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar yang seharusnya dipelihara oleh negara?”, pikirku.

Aku ingat sahabatku. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses. Oleh kedua orangtuanya, ia diharapkan untuk menjadi orang yang sukses pula. Karena merasa tertekan, ia memasrahkan hidupnya dengan menggantung lehernya, dan secarik kertas berisi pesan kepada orangtuanya, “Pa, Ma, Aku tidak bisa memenuhi keinginan Papa dan Mama. Lebih baik aku mati atau bunuh diri”.

Sahabatku bunuh diri. Dan ia masih kelas tiga sekolah dasar. Waktu itu.

Bocah penyemir sepatu tadi sudah sibuk menyemir sepatu seorang bapak di bangku sebelah. Dengan wajah berseri menanti keping rupiah pertamanya, ini hari.

Kugendong ranselku, beranjak untuk segera melanjutkan perjalanan. Kereta akan segera berangkat.

[Di Kereta]
Aku melihat wajah-wajah asing. Tak ada yang kukenal, tak ada yang mengenalku. Mereka sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mengobrol dengan teman sebangkunya, ada yang membaca koran atau majalah, ada yang tertidur, atau bahkan tak melakukan apa-apa. Aku, meski aku yakin bahwa kita tak sendiri, tapi aku tetap merasa tak mempunyai teman seperjalanan.

Kereta melaju, kencang. Serasa melepas semua hasrat dan keinginan. Wajah-wajah terdiam. Membeku dan pasi. Mencoba untuk menikmati perjalanan ini. Segala kasta dan rahasia menumpuk di sini. Entah, akan kemana kereta ini membawa. Tak ada yang peduli. Semua masih terdiam, berkeringat, pengap.

Kereta masih melaju. Tak peduli awan mendung menggantung, di ujung perjalanan.

[Tujuan Akhir]
Kemana kita akan pergi? Ke rumah kosong tak berisi. Kemana kita akan menuju? Yang tersisa hanya tubuh lebam biru.

Matahari meninggi, berangkat pergi. Tapi, gelisah ini masih tetap tertinggal di sini. Abadi.[]

22.12.17

Niko



Niko tampak cantik dalam balutan kimono berwarna violet, warna kesukaannya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai jatuh di bahunya. Riasan tipis di wajahnya, tetap tidak mengurangi keanggunannya. Senyum yang selalu mengembang di bibirnya, membuatku terpana.

      "Kenapa sih, kamu selalu memandangku seperti itu?”, katanya, sedikit jengah kupandangi.
            “Apa tidak boleh aku mengagumi kecantikanmu?”, aku balik bertanya.
            “Kita kan tiap hari ketemu. Kaya’ kamu gak pernah ketemu aku aja”.
            “Iya. Tapi, itu tetap tak bisa menghapus kekagumanku pada dirimu”.
            “Selalu begitu. Terserah kamu”, katanya menyerah.

            Meski keturunan Jepang, Niko belum pernah berkunjung ke negeri asal nenek moyangnya itu. Sejak lahir sampai sekarang, Niko tinggal di sini. Jadi jangan heran jika mendengar Niko tidak begitu fasih berbahasa Jepang. Tapi kalau soal makanan, jangan ditanya, dia jagonya. Masakannya tidak kalah dengan hasil masakan dari koki di resto-resto khusus masakan Jepang.

            Dengan tinggi 180 cm, wajah cantik khas perempuan oriental, sebenarnya dia cocok untuk menjadi model, atau setidaknya bintang iklan. Pernah aku mengusulkan padanya untuk mencoba ikut casting atau ajang-ajang pemilihan model dan cover girl di suatu majalah, tapi dia tidak pernah mau.

            “Aku gak ingin menjadi pusat perhatian. Aku merasa nyaman dengan diriku sekarang ini. Melukis, menulis, atau bahkan memasak. Itu semua sudah cukup membuatku merasa bahagia. Apalagi yang harus kucari, selain kebahagiaan?”.

            Mendengar alasannya, aku tak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Di satu sisi, aku ingin melihatnya memanfaatkan setiap kesempatan yang terbentang untuk melangkah lebih jauh ke depan. Tapi, di sisi yang lain sebenarnya aku merasa takut. Aku takut jika nanti Niko sudah menjadi sosok yang dikenal banyak orang, aku tak akan bisa lagi bertemu dan berhubungan dengannya secara leluasa seperti sekarang ini.

Image by Ady Setiawan from Pixabay

[]

            Niko dan aku sudah berteman sejak lama, sejak kami masih kecil. Kebetulan kami sama-sama anak tunggal di keluarga masing-masing. Kami sudah seperti saudara. Karena aku yang lebih tua setahun darinya, maka aku yang harus berperan sebagai kakak dan dia adiknya. Seperti lazimnya, tugas seorang kakak adalah menjaga dan melindungi sang adik. Itulah peran yang harus kami jalani.

            Aku ingat, ketika itu Niko masih kelas 5 SD. Sepulang sekolah dia menangis. Segera kuhampiri dia.

            “Kenapa menangis? Apa ada yang mengganggumu?”.
            “Tadi cokelatku diambil si Andy”, kata Niko, mengadu.
            “Sudah, jangan menangis. Nanti kubelikan cokelat lagi”, kataku sambil berusaha meredakan tangisnya.
            Niko diam. Mengusap sisa-sisa air mata di pipinya, kemudian tersenyum.

            Esok harinya, aku datangi Andy. Begitu ketemu dengannya, langsung kuhadiahi dia dengan sebuah pukulan yang tepat mengenai hidungnya, sambil tak lupa kusertakan pula ancaman agar dia tidak mengganggu Niko lagi.

            Yang terjadi selanjutnya adalah Niko tidak pernah lagi diganggu oleh teman-temannya. Tapi karena peristiwa itu pula, aku sempat di skors selama seminggu.
            Bila mengingat kejadian-kejadian yang kami alami di waktu kecil dulu, aku dan Niko selalu tertawa.

            Kedekatanku dengan Niko kadang memunculkan rasa cemas di hatiku. Aku takut jika suatu saat nanti aku harus berpisah dengannya. Takut jika nanti aku tidak akan pernah lagi bisa menghabiskan waktu bersamanya.
            Pernah Niko bertanya padaku apakah hubunganku dengannya tidak mengganggu hubunganku dengan orang lain. Aku tidak langsung menjawabnya, tapi balik mengajukan pertanyaan yang sama padanya. Niko pun tidak menjawab secara tegas pertanyaanku.

            Kejadiannya kira-kira setahun yang lalu.

            “Apa hubungan kita ini tidak mengganggu hubunganmu dengan orang lain?”, tanya Niko.

            Aku tidak menjawab. Hanya diam, sambil menghela nafas.

            “Selama ini aku tidak pernah melihatmu dekat dengan perempuan lain, selain aku”, tambahnya.

            Aku tidak langsung menjawab. Menghela nafas. Memandang wajahnya.
            “Tidak akan ada yang merasa terganggu melihat hubunganku denganmu, Niko. Entah denganmu. Apa ini juga tidak mengganggu hubunganmu dengan orang lain?”.
            “Tidak”.
            “Terus kenapa selama ini tidak ada perempuan yang dekat denganmu?”, tanya Niko.
            “Apa masalah ini begitu penting untuk diperdebatkan? Jika selama ini tidak ada perempuan yang dekat denganku, itu karena aku memang belum menginginkannya. Itu saja. Dan tolong jangan permasalahkan soal ini lagi”.

            Niko hanya terdiam. Memandang titik-titik air yang mulai jatuh membasahi pelataran rumahnya. Gerimis datang, dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.

            Sampai sekarang kami tidak pernah lagi memperbincangkan soal itu lagi.
[]

          
           “Hei! Jangan bengong aja. Makan tuh!”, seru Niko, mengagetkanku.

            Melihatku terkejut, Niko tersenyum.

            “Ya Tuhan, terima kasih telah Kau ciptakan makhluk indah itu di sini. Dan telah Kau izinkan aku untuk dapat berada dekat dengannya”, ucapku dalam hati.
            “Iya. Kamu juga. Aku tak ingin menikmati masakan terlezat yang pernah kunikmati ini seorang diri”.

            Seperti hari-hari yang lain, hari ini Niko juga memasak sendiri.

            Hari ini adalah hari terakhir dia berada di sini. Besok, dia harus menemani mamanya yang ingin menghabiskan hari tuanya di negeri para leluhurnya, Jepang. Dan entah kapan dia akan kembali lagi ke sini.

            Kami menghabiskan malam berdua. Bercerita dan berbincang tentang banyak hal, sepanjang malam. Di bawah bintang dan bulan yang bersinar terang. Purnama. Bulan bulat penuh. Malam yang indah.

            Esok paginya, aku mengantarkan Niko dan mamanya sampai di bandara. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir kami berdua. Hanya tatapan mata yang berbicara.

            “Aku akan merindukanmu. Tolong jangan lupakan aku”, kata Niko sambil memelukku, sebelum beranjak memasuki pesawat.
            “Aku juga akan merindukanmu. Aku tak akan pernah melupakanmu. Jaga dirimu baik-baik”.
            Niko tersenyum, manis sekali. Senyum yang tak akan mungkin pernah bisa kulupakan.

            Mungkin memang benar jika ada yang mengatakan, kita akan lebih menghargai apa yang kita miliki apabila kita telah kehilangan sesuatu yang kita miliki tersebut.

            Apakah aku akan kehilangan Niko? Entah.[]