Showing posts with label lirik. Show all posts
Showing posts with label lirik. Show all posts

22.8.25

Adalah Ia

Image by Dani Géza from Pixabay 


ia yang terlelap

    sedang berbincang

    dengan yang

    di dalam dan luar

    diri.


takdir tercatat

    sejak pertama hari 

    didatangkan

    dari hangat

    rengkuhan.


kepada siapa

    ia akan memberi

    makna.

28.4.23

Sebab Ini Tentangmu


Image by Larisa Koshkina from Pixabay


Tak ada yang perlu dicemaskan

selagi embun masih menitik

di ujung daun pagi.


Sebab ini tentangmu

kebaikan yang sempurna

bagai cerah cahaya.


Tak ada yang patut disembunyikan

kebahagiaan telah datang

sinar yang terang.

15.4.23

Aku Benci Segala Hal Yang Kubenci

Image by Gordon Johnson from Pixabay


Aku membenci segala hal yang kubenci, tapi 

walaupun demikian, bukannya tidak ada 

hal yang kusuka.


Aku menyukai segala hal yang kusuka, tapi 

walaupun demikian, bukannya tidak ada 

hal yang kubenci.

15.4.19

Kesempatan

Apakah selamanya hijaunya gunung nun jauh di sana akan dapat kaunikmati indahnya? Apakah selamanya beningnya embun di pucuk daun akan dapat kaunikmati sejuknya? Mungkin pernah terlintas di kepala bahwa apa yang ada di depan mata akan menjadi milik kita selamanya. Mungkin pernah tersirat di lelaku bahwa apa yang ada di keseharian akan menjadi hak kita selamanya.

Udara segar, air bersih, cuaca cerah, hangat sinar matahari, berita bahagia, kabar baik, kicau burung, nyanyi jengkerik, tawa kanak, dongeng riwayat, serta masih banyak hal lagi yang patut kita simpan dan kenangkan. Akankah selamanya itu ada?

Apakah selamanya kesempatan yang sudah diberikan seluasnya akan dapat kauhikmati?

6/1/18

13.2.19

Barangkali: Variasi

Barangkali karena terlalu bising
abjadabjad berloncatan
jungkir balik berakrobat
tidak membentuk kata
tidak menyusun kalimat
tidak memberikan makna.

Barangkali karena terlalu sedih
bungabunga enggan didekati lebah
terlalu parah luka hati diderita
tak pernah lagi membuka pintu
tak pernah lagi mengecup embun
tak pernah lagi menghias diri.

Dan karena beberapa sebab
barangkali ini bukanlah puisi.

4/1/18

17.1.18

Kau dan Aku Melawan Dunia

Seperti singa yang mengintai mangsanya, ada banyak pasang mata yang selalu siap menelanjangi dan menguliti apa yang kita lakukan. Hal yang benar, apalagi yang "kurang" pas menurut mereka, pasti akan segera diterkam dengan berbagai penilaian.

Tapi tenanglah, tak usah hiraukan. Sepanjang apa yang kita perbuat berada dalam jalan yang seharusnya. Tak usah risau, tetap santailah. Sepanjang apa yang kita jalankan berada pada relnya.

Memang kuping terkadang terasa panas mendengar ocehan mereka. Memang bibir terkadang terasa gatal ingin membalas cemoohan mereka. Tapi tak ada guna. Malah akan menjadi pengipas bara api yang mereka nyalakan.

Semua diciptakan ada tugas dan bagiannya masing-masing. Anggap saja mereka yang tidak suka sebagai pelengkap. Pemain figuran yang kehadirannya kadang diperlukan sebagai pemanis cerita.

Tersenyumlah, kau dan aku akan melawan dunia.

29.8.16

Luka

lukaluka yang menganga
di tubuh yang terkapar tak berdaya
adalah sebuah catatan sejarah
yang tak akan mungkin kaulupa

di sanalah segala hal tersimpan
yang buruk dan memalukan
yang menyisakan tawa terbahak
menjadi semacam penanda jejak

sesiapa yang pernah kautinggalkan
selamanya akan tetap diingatan
sesiapa yang telah kaulukakan
akan tetap ada menjadi bayangan

kemanapun kau akan berlari
ke lorong gelap yang dingin dan sunyi
selalu saja menghantui
dirimu yang sendiri: memanggilmanggil sepi

29.8.16

19.8.16

Pagi Subuh

pagi yang subuh
tubuh masih rubuh
kekasih terlelap
katakata gagap

napas satusatu
pikiran beku
kemana berlalu
jalan hendak dituju

19.8

14.11.15

Narasi Perjalanan

perjalanan ini telah dimulai
dalam badai dan gelombang pasang
harus tetap tenang
hingga segala usai

lalu, akankah sampai
rinduku padamu?

13.11.15

Narasi Terasing

orangorang sibuk
berjalan dan pergi
sebagian mabuk
sebagian mimpi

aku terasing,
tanpamu

13.11.15

5.11.15

Pintu Terbuka

Ada yang senantiasa menganga
di kala jiwa sedang terluka
dan kaki lemah mengayun langkah
menuntun kita kemana mengarah

Pintu yang terbuka
menawarkan segala pilihan
dengan segala tuduh dan sangka
muslihat atau kebenaran

Jalan yang ada di hadapan
adalah kemudian yang menentukan
kepada siapa meminta pertolongan
ketika belenggu sudah di tangan

Hujan Yang Kemarin

Hujan yang kemarin datang, ketika rindu sudah di awang-awang, dapatkah menghalau sepi, yang selalu hadir di dalam mimpi.

Di saat malam sendirian tanpa rembulan, hati seorang gadis telah jauh berjalan, melajukan rindu yang membayang, kekasih yang lama tiada pulang.

Sungguh

Sungguh, aku tak hendak menggodamu, dengan segala bujuk rayu yang keluar dari mulutku.

Pun aku tak sepenuhnya berharap,  bahwa kau akan segera datang dengan segala duka cita, setelah sebelumnya menepis semua perasaan hatimu.

17.10.15

Rahasia

di antara hujan yang rintik
tiada kedip di matamu yang lentik
aku melihat seribu rahasia
kau simpan rapat di dalam goa
kelak, ketika seorang kekasih datang
kepadanya cerita itu akan berulang



 

Yang Menunggu

wajah dan kecemasan
menjadi satu
menatap keluar jendela
menunggu yang datang
siapa dan kapan

dan bulan yang separuh
muram di pelataran
sementara,
sebilah belati di balik pintu

29.7.15

Kunang - Kunang

aku tenggelam di genang hitam
di antara kerlip cahaya,
di tubuhmu

menjelma kunang-kunang
yang terbang dan hinggap
dari satu tempat ke tempat lainnya

selalu sendiri
ya,
sendiri saja

11.9.15

Masihkah Rindu Itu Padamu

masihkah rindu itu padamu
ketika daun mulai menguning dan gugur
musim telah berganti
dan rasa lelah mulai menghantui

matahari yang condong ke barat
burung-burung pulang
beban yang semakin berat
mengisi ruang-ruang di hidupmu

masihkah rindu itu padamu
jarak yang makin panjang membentang
waktu bertemu yang tak lagi luang
memberi batas untuk bersamamu

2015

7.9.15

Aku Datang

kembali aku datang
bukan untuk berperang
pedang telah lama kusarungkan
dendam telah jauh kutinggalkan

kepadamu aku berharap
menghirup segar udara
di antara rimbun cemara
dan sunyi senyap

lalu akan kaubuka pintu
untukku bisa masyuk bersamamu
bercerita tentang wangi kembang
dan kerlip cahaya kunang-kunang

ijinkanku istirahat dengan tenang
dengan janji yang telah kulunaskan
agar tiada lagi hutang
yang kelak diminta pertanggung jawaban

Apa Kabarmu?


apa kabarmu, di sana?

masihkah kabut tebal menyelimuti tubuhmu, melindungimu dari kegelapan yang datang, meski hari telah cukup terang?

masihkah suara bising sepiker mushola mengganggu pendegaranmu, hingga kau jejali kedua telingamu dengan irama musik yang keras, dan menyamarkan suasana hatimu?

masihkah hujan datang ke kotamu, yang setiap angka dalam kalendermu selalu kaulingkari dengan tinta merah, untuk menghitung seberapa sering kemarau hadir, menghiasi hari-hari sepimu?

apa kabarmu, di sana?

semoga kau selalu diberi ketabahan, untuk menyembuhkan segala luka diri, yang belum juga terobati, meski musim selalu datang silih berganti.

Kepada Kota


mungkin aku harus berterima kasih kepadamu, yang telah memberiku udara segar untuk kuhirup saban pagi, dan kicau burung yang hinggap di rindang pohon, di sepanjang jalan menujumu.

tapi itu dulu, jauh sebelum asap knalpot memenuhi langit dengan warna hitamnya, serupa tinta mesin cetak yang tergeletak di atas meja, yang saban waktu kaupacu untuk memuaskan birahimu.

kini, hanya panas menyengat menbakar kulit yang selalu kuterima, di ujung aspal di sepanjang perjalanan pulang, tanpa sekalipun kausuguhkan minuman dingin pelega tenggorokan, setelah seharian berteriak lapang mencari penghidupan.

2015