Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

22.8.25

Adalah Ia

Image by Dani Géza from Pixabay 


ia yang terlelap

    sedang berbincang

    dengan yang

    di dalam dan luar

    diri.


takdir tercatat

    sejak pertama hari 

    didatangkan

    dari hangat

    rengkuhan.


kepada siapa

    ia akan memberi

    makna.

28.4.23

Sebab Ini Tentangmu


Image by Larisa Koshkina from Pixabay


Tak ada yang perlu dicemaskan

selagi embun masih menitik

di ujung daun pagi.


Sebab ini tentangmu

kebaikan yang sempurna

bagai cerah cahaya.


Tak ada yang patut disembunyikan

kebahagiaan telah datang

sinar yang terang.

17.1.18

Kau dan Aku Melawan Dunia

Seperti singa yang mengintai mangsanya, ada banyak pasang mata yang selalu siap menelanjangi dan menguliti apa yang kita lakukan. Hal yang benar, apalagi yang "kurang" pas menurut mereka, pasti akan segera diterkam dengan berbagai penilaian.

Tapi tenanglah, tak usah hiraukan. Sepanjang apa yang kita perbuat berada dalam jalan yang seharusnya. Tak usah risau, tetap santailah. Sepanjang apa yang kita jalankan berada pada relnya.

Memang kuping terkadang terasa panas mendengar ocehan mereka. Memang bibir terkadang terasa gatal ingin membalas cemoohan mereka. Tapi tak ada guna. Malah akan menjadi pengipas bara api yang mereka nyalakan.

Semua diciptakan ada tugas dan bagiannya masing-masing. Anggap saja mereka yang tidak suka sebagai pelengkap. Pemain figuran yang kehadirannya kadang diperlukan sebagai pemanis cerita.

Tersenyumlah, kau dan aku akan melawan dunia.

16.1.18

Kucing

Seekor kucing kecil sendirian di pojok gang, lalu dipungut oleh Mera. Kucing kecil itu kemudian dibersihkan tubuhnya dan diajak bermain sebentar.
Mera kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat biasa nongkrong. Menghabiskan malam bersama teman sepermainan. Main gitar, merokok sambil minum kopi.

Tanpa sepengetahuannya kucing kecil itu ternyata mengikuti, tapi dia tidak berani mendekat. 

Menjelang tengah malam mereka membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah Mera langsung masuk kamar, untuk beristirahat. Tidur, memejamkan mata. 

Ketika lagi nikmat-nikmatnya tidur, tiba-tiba kaki Mera menyentuh sesuatu yang rasanya seperti bulu atau sesuatu. Karena terkaget, sontak Mera langsung terbangun dan menyalakan lampu. Ternyata kucing kecil tadi sudah ikut masuk ke kamar melalui sela-sela dinding rumah yang bolong, lalu ikut naik dan tidur di kasur. Segera Mera bangun dan segera mengeluarkan kucing itu dari rumah.

Tak beberapa lama, kejadian berulang. Kucing kecil tadi masuk dan naik lagi ke kasur. Benar-benar mengganggu dan menjengkelkan. Untuk kedua kalinya Mera membawa keluar kucing kecil itu. Sebelum melanjutkan tidur, Mera lalu menutup semua celah yang memungkinkan dipakai sebagai jalan masuk  ke dalam rumah oleh kucing itu. 

Benar, pada awalnya memang lucu sekali sikap kucing itu. Tapi lama-lama terasa mengganggu. Apalagi di waktu-waktu tertentu di mana Mera butuh untuk sendiri. Dan, di antara teman-temannya ada juga yang sikapnya seperti kucing itu!

12.1.18

Hari Terakhir Tuan Ehukehuk di I'Hotel

Keheningan pagi ini sudah dipecahkan oleh suara batuk dari seseorang di ruang makan sebuah hotel kecil di pinggir kota di pantai utara. Suara batuk yang dalam dan tajam seperti pisau menyayat daging menjadi potongan yang tak beraturan. Suara batuk yang berat seakan di dalam urat leher berisi truk molen berisi lahar semen yang siap dimuntahkan kapan saja.

Lama kuperhatikan orang itu, yang kemudian kukenal sebagai Tuan Ehukehuk, mendiami sebuah kamar di hotel ini sejak setahun yang lalu. Ya pada hari ini tepat setahun yang lalu ia masuk ke hotel ini dengan koper penuh sesak berisi pakaian dan berkas-berkas entah apa. Jalannya limbung, terhuyung-huyung seperti orang mabuk kecubung. Kalau deskripsinya masih kurang jelas menurutmu, cobalah kau minum seteguk ramuan kecubung milik temanmu, lalu rasakan sensasinya.

Bukan, aku tidak sedang membahas khasiat ramuan kecubung yang di kampungku nan jauh dari kota ini sudah biasa dikonsumi oleh anak-anak muda usia belasan, untuk memperoleh predikat sebagai orang hebat dan disegani oleh anak-anak muda lainnya. Tapi kali ini aku akan membahas tentang seseorang, orang yang batuknya bergetar seperti mesin bor.

Tuan Ehukehuk yang bentuk tubuhnya seperti liflet, kerempeng dan lemah itu saban hari selalu keluar dari hotel dengan berpakaian rapi dan menenteng berkas-berkas lalu akan pulang sebentar pas jam makan siang, untuk kemudian akan pergi lagi satu jam kemudian. Sorenya dia akan berdiam di kamarnya dan hanya keluar pada saat makan malam.

Hampir tidak pernah kulihat dia berinteraksi dengan sesama penghuni hotel ini. Kalau pun berpapasan dengan mereka di resto atau lobby, dia hanya akan bertukar senyum dan sapa sekadarnya saja. 

Meski sudah setahun dia menginap di hotel ini tak pernah pula kulihat dia merokok. Bahkan kalau kebetulan ada teman bisnisnya yang datang kemudian merokok selalu dilarang dan diberi tambahan kata-kata bijak soal kesehatan. Mirip ustad yang ceramah di media sosial maupun televisi, mirip tukang motivasi yang selalu berkata-kata baik itu.

Hampir tidak pernah ada masalah yang datang menghampirinya. Sepertinya dia tipe orang yang tidak suka membuat masalah, kecuali soal suara batuknya yang selama setahun ini seolah menjadi suara latar yang diputar di hotel ini. Walaupun suara batuknya sedemikian itu tapi tidak ada satupun penghuni hotel yang komplain atau mengeluh kepada manajemen. Entah karena segan atau kasihan.

Hari ini hari terakhirnya tinggal di hotel, sebab dia harus sampai ke ibukota tengah malam nanti. Sewaktu sarapan pagi dia sudah berpamitan kepada beberapa penghuni hotel yang dikenalnya, yang semuanya menunjukkan raut muka sumringah seolah melihat cahaya pagi yang memberi harapan bahwa hal-hal buruk akan segera berlalu.

28.8.15

Episode Keabadian



[1]
Rambut gondrong, celana jeans robek di bagian lutut dan t-shirt putih bergambar sampul album band Sonic Youth, rokok di tangan, itulah atribut yang selalu melekat padanya. Kurt, namanya. Seorang vokalis sebuah band yang baru-baru ini albumnya meledak hebat di pasaran. Dan karena lirik-lirik lagunya yang lugas, tanpa batas dan kompromi, dia dianggap sebagai juru bicara generasinya.
Tapi orang-orang itu tak pernah tahu, apa sebenarnya yang dirasakannya. Orang-orang hanya melihatnya sebagai sosok yang sukses menjual jutaan kopi albumnya ke seluruh dunia, tanpa pernah mau tahu apa sebenarnya yang ada di dalam hatinya.
Sudah lama ia muak dengan apa yang telah ia dapatkan, nama tenar, uang melimpah dan segala fasilitas serta kemudahan-kemudahan lainnya. Tapi bukan itu yang ia inginkan, ia hanya ingin bernyanyi, tak peduli orang senang mendengarnya atau tidak. Ia muak dengan perlakuan para fans yang selalu mengelu-elukan namanya ketika di atas panggung, tapi ketika nanti ia sudah tidak bisa apa-apa, mereka akan dengan mudah melupakan dan menganggapnya tidak pernah ada. Ia juga muak dengan apa yang ditawarkan para penggemar kepadanya.
Pernah suatu kali, penggemarnya seorang perempuan muda yang bahkan payudaranya saja belum tumbuh menawarkan diri untuk memberikan keperawanannya, dan ia menolaknya. Dengan itu semua, yang dilakukannya adalah mengkonsumsi heroin secara rutin untuk menghilangkan semua kemuakan yang dirasakan.

Sudah dua bulan ini ia keluar masuk rehabilitasi, tapi tak pernah kelihatan hasilnya.
Orang-orang menganggapnya nyeleneh, aneh. Kadang ia menggonggong seperti anjing di pelataran parkir mobil. Kadang ia tertawa keras, tanpa ada sebabnya. Tapi kadang ia juga terlihat murung, diam dan menyendiri. Ia lebih kelihatan sebagai seorang “gelandangan” daripada seorang “bintang besar”.
Kemarin ia lari dari tempat rehabilitasi, dan orang-orang tidak ada yang tahu kemana perginya.
Hingga tiga hari kemudian, polisi menemukannya tewas dengan kepala tertembak, pistol di tangan kiri, dan secarik kertas bertuliskan,”…you have raped me harder than you’ll ever know…”.

[2]
Jendela kamar selalu tertutup, sehingga tak ada udara segar yang masuk. Cahaya matahari pun masuk hanya lewat celah-celah yang ada di atas jendela. Pengap, sesak, belum lagi asap rokok yang mengepul dari bibirnya. Tape deck butut lamat-lamat mengalunkan “Juwita Malam”nya Ismail Marzuki dalam versi keroncong.
Ia masih saja asyik menulis. Menulis apa saja, sajak, cerita atau hanya sekedar coretan-coretan yang tak tentu rimbanya. Di depannya, segelas kopi pekat sisa semalam yang tinggal separuh dan setangkup roti bakar dengan telur mata sapi di tengahnya, menemaninya. Tumpukan kertas terletak di atas meja, dan beberapa buku tampak tergeletak begitu saja di sudut kamar. Beberapa gumpalan kertas tersebar di beberapa sudut dalam ruangan ini.
Sudah beberapa minggu ini ia tinggal di kamar ini. Sendiri tanpa ada yang menemani. Hanya kadang-kadang saja ada teman yang mengunjungi, itu pun hanya sebentar, paling hanya untuk menengok keadaannya. Bahkan sudah hampir seminggu ini tak ada teman yang mengunjungi.

Ia terbatuk. Tubuhnya semakin kurus bila dibandingkan dengan keadaannya beberapa bulan sebelumnya. Sekarang ini ia nampak kumuh dan penyakitan. Ia terbatuk lagi, dan nafasnya mulai tersengal-sengal, penyakit yang menyerang paru-parunya kambuh lagi. Ia terbatuk lagi, dan kali ini disertai dengan dahak yang keluar dari mulutnya, berwarna hitam, kental dan ada sedikit bercak berwarna merah di situ, merah darah.
Ia masih belum menyerah. “Juwita Malam sudah masuk bagian reffrain. Di ambilnya roti, coba dimakannya, tapi dimuntahkannya lagi sepotong roti yang tadi berhasil digigitnya. Cuh!, ia muntahkan potongan roti ke bawah meja dekat kaki yang sebelah kanan.

Beberapa lama, ia masih asyik menulis. Masih terbatuk. Dan mungkin karena kepayahan, ia nampak pulas tertelungkup di atas kertas-kertas yang berserakan di meja.
Di atas ranjang, tergeletak satu eksemplar buku baru, masih bersegel plastik dengan tulisan,”AKU, kumpulan sajak oleh Chairil”.

[3]
…is everybody in? the ceremony is about to begin!…1

Musik mengalun pelan. Ia duduk sambil menghisap rokok, dan di tangan kirinya memegang sebotol vodka. Di depannya, sebuah layar televisi hitam putih 21 inci sedang menampilkan rangkaian gambar-gambar dari pemutar video yang terletak di atasnya.

Gambar-gambar itu bercerita, tentang sekumpulan bocah-bocah yang sedang berpesta di acara ulang tahun salah satu temannya, tentang seorang lelaki yang sedang berjalan-jalan di pantai sambil membawa buku Jack Kerouac “On The Road”, tentang sebuah band yang sedang mengadakan tour di sebuah kota besar di Amerika bagian utara.

Suatu hari ia dan bandnya sedang tour di suatu kota, ketika di panggung, pada saat menyanyikan lagu ketiga, orang-orang melihatnya bernyanyi sambil berdansa dengan gaya yang aneh. Padahal menurutnya, ia sedang bernyanyi dan berdansa dengan sekelompok orang-orang Apache di sebuah ritual acara penyembahan yang dilakukan oleh suku tersebut.

Seteguk vodka langsung dari botol meluncur ke perut melalui kerongkongan. Tubuhnya sekarang telah berbeda dengan tubuhnya yang dulu. Kini, perutnya telah dilapisi oleh tumpukan lemak yang membuat beberapa gelambir nampak menghiasi beberapa permukaan perutnya. Wajahnya pun kini sudah tak klimis lagi, penuh dengan bulu yang dibiarkan  memanjang tanpa pernah di cukur.

Gambar-gambar masih bercerita. Menampilkan keabadian dalam istilahnya sendiri. Ia masih belum beranjak dari tempatnya duduk. Masih dengan rokok di tangan kanan, dan vodka di tangan kirinya. Di belakangnya, poster dirinya berpose seperti Jesus saat disalibkan, menempel gagah di dinding kamarnya. Televisi menampilkan gambar seorang perempuan muda berambut ikal-pirang sedang tertawa-tawa dan menari-nari,”Ah, Pam, di mana sebenarnya kau kini? Aku merindukanmu!”. Ia bergumam sendiri.

Berdiri, meneguk lagi vodka dari botolnya. Memandang keluar ke arah bukit di sebelah selatan kamarnya, tempat pemakaman para tokoh-tokoh besar,”Jika aku mati nanti, aku ingin dimakamkan di sana”, katanya pada dirinya sendiri.

Berjalan perlahan ke kamar mandi. Berbaring di bath tub, dengan rokok di tangan kanan dan vodka di tangan kiri. Memejamkan mata. Mencoba menikmati segala kebekuan dan keabadian menurut caranya sendiri. Ia tersenyum, seperti menjemput malaikat maut yang akan membawanya ke surga.

[4]
Aku merasa seperti berada di taman labirin. Aku tak bisa menemukan jalan keluar. Semua buntu. Suntuk. Aku tersesat. Tak tahu harus menentukan, cara apa yang akan kutempuh untuk menyongsong keabadian. Kematian.


1 Lirik lagu “Awake Ghost Songs” The Doors

"d"


AKU dinamakan “D”, entah apa arti dan maksudnya, aku tak pernah tahu. Siapa orang tua kandungku, aku tak pernah tahu. Dari cerita orang-orang yang kudengar, aku adalah bayi yang ditemukan tergeletak di depan pagar rumah yang sekarang kutinggali, pada suatu subuh bertahun yang lalu. Dan menurut mereka, aku (mungkin) adalah anak hasil dari hubungan gelap, yang tak pernah dikehendaki kelahirannya, dan akhirnya dibuang begitu saja.

            Siapa pun aku, siapa pun orang tua kandungku, bagaimana keadaan ketika aku dilahirkan, aku tak peduli. Dan sekali lagi, aku tak pernah peduli itu.



            INI adalah malam ke seratus, sejak aku menjelajahi ribuan situs untuk memuaskan kesenanganku, menghabiskan waktu. Pusing, pening mulai datang. Migren. Kepala serasa mau meledak, dan aku menyesal tidak memasang pemindai di kepalaku agar aku bisa tahu berapa banyak virus dan cacing yang berdiam dan tinggal di otakku, dan berpesta pora di sana sehingga membuat otakku menjadi semakin bebal jika digunakan untuk memikirkan sesuatu.

            Di layar, masih terpampang foto Adolf Hitler menghisap cerutu sambil memandangi ribuan mayat bergelimpangan di ujung sepatu hitamnya. Aku demikian tergila-gila dengannya. Entah apa yang menyebabkannya, aku sendiri tak pernah tahu. Aku sering berpose sepertinya, dengan posisi tangan melambai, aku bisa merasakan kepuasan yang luar biasa melebihi apa yang pernah kurasakan ketika pertama kali melakukan masturbasi pada saat masih kelas 5 SD.

            Aku mengantuk, tapi mata ini tetap tak mau terpejam. Kupaksa untuk memejamkan mata, tetap tak bisa. Aku terbaring di ranjang, dan menatap dinding kamar yang penuh dengan poster orang-orang yang begitu aku agungkan; Ozzy, Hitler dan Jim Morrison, dan membuatku selalu ingin menjadi seperti mereka. Abadi.

Jantung sudah berhenti berdetak, bahkan paru-paruku pun sudah lama tak berfungsi lagi, sejak Marlboro mengirimkan ribuan miligram nikotin ke sana. Sering aku terbatuk dan mengeluarkan dahak bercampur darah yang berwarna hitam, tapi kebiasaan ini tak bisa begitu saja kutinggalkan. Sama seperti ketika aku tidak bisa meninggalkan kebiasaanku yang lain; memotret bugil perempuan-perempuan yang mau di bayar hanya dengan sebutir ectasy dengan kamera hitam putih milikku satu-satunya, atau minum kopi pahit dengan iringan musik rock yang kusetel dengan volume kencang, juga masturbasi sambil menonton film-film porno bajakan yang kubeli dengan harga 15 ribuan per keping.
             
Di sudut, masih mengalun sayup-sayup suara Ozzy membawakan “Dreamer” dari tape deck butut, yang kubeli dari pasar loak setahun yang lalu. Kadang aku mengandaikan diriku sebagai “aku” seperti yang terdapat dalam lirik lagu tersebut, dan aku merasa benar-benar ada di dalam lagu itu. Ya, sepertinya aku adalah seorang pemimpi.

            “Aku bermimpi Friedrich Nietzsche membisikiku bahwa semua laki-laki itu jahat!”, kata Bean padaku.
“Aku tidak melihat ada keindahan sedikit pun pada tubuh seorang laki-laki. Tak ada yang menarik!”

Aku hanya terdiam mendengarnya bicara, aku masih sibuk mengedit dan memanipulasi foto-foto bugil dari perempuan yang baru saja kupotret tadi pagi.

            “Laki-laki adalah binatang. Mereka sering memperlakukan perempuan hanya sebagai obyek saja, setelah keinginannya terlampiaskan, dengan mudah dia akan mencampakkannya begitu saja seperti sampah yang tak berguna”.

Bean masih terus berkata-kata, menyumpah serapahi laki-laki. Aku tak dapat mengingat semua kata-katanya, karena aku tak pernah memikirkannya. Itu adalah masalahnya, dan aku tak ingin terlibat dengan masalah itu.

            “Aku benci semua laki-laki, termasuk semua laki-laki yang pernah meniduri aku”, lanjutnya lagi.
“Berarti kamu benci padaku, karena aku pernah tidur denganmu?”, sahutku kemudian, sambil tersenyum kecil.

Bean terdiam. Aku terdiam. Dan kami berdua terdiam, tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Bean berbaring di ranjang, melamun, dan aku melanjutkan kegiatanku tadi yang sempat terhenti.

            Sementara itu, detak jarum jam di dinding kamar sibuk mengabadikan kebekuan ini.

            Aku mencoba mengaduk-aduk memori otakku yang kurasa sudah penuh dan semakin lambat saja memikirkan sesuatu. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang pernah kulakukan dan alami ketika aku kecil dulu.

            Aku ingat sering menonton film-film dua warna; hitam putih. Aku ingat sering menonton Janur Kuning, Pengkhianatan G30S/PKI, film-film dokumenter tentang keadaan negeri ini di masa perang kemerdekaan, juga film-film bisu Charlie Chaplin. Mungkin inilah yang membuatku membenci warna-warna selain hitam dan putih. Dan mungkin ini jugalah yang membuat mimpi-mimpiku selalu hitam putih, tak pernah berwarna. Tapi, aku tak pernah ingat sejak kapan aku mengalami hal ini.

            Aku ingat ketika aku sedang mengintip seorang perempuan yang sedang mandi di kamar mandi berdinding dari bambu, di belakang rumah. Aku sangat menikmati saat-saat itu. Dan sejak saat itulah aku mulai senang melihat tubuh telanjang perempuan, tak peduli berapa pun usia mereka.

            Tumpukan album yang berisi foto-foto hitam putih masa kecilku masih tergeletak di sudut, di bawah gantungan baju dan celana yang entah sudah berapa hari tak pernah dicuci, berdebu, bahkan ada beberapa bagian dari foto-foto itu yang lengket, berjamur dan mengelupas rusak. Kubolak-balik halaman demi halaman album itu sambil mencoba mengingat-ingat kembali kenangan-kenangan yang ada di balik foto-foto itu. Ingatanku melayang jauh, menembus waktu, kembali ke masa-masa silam dulu.

            Tapi, aku tak dapat mengingat apa pun. Memoriku sudah usang dan mungkin sudah terlalu berat untuk bekerja lagi. Aku menyerah!

            “Di mana kau tidur semalam?”, kataku pada Bean, beberapa saat setelah dia masuk ke kamar, sehabis dari kamar mandi.
“Di mana-mana”, jawabnya sekenanya.
“Kau percaya pada Tuhan? Takdir? Dan kau juga percaya pada aturan-aturan itu?”.
“Tidak! Dan aku juga tidak percaya pada semua aturan-aturan itu. Bagiku semua itu bohong, palsu, bahkan tak ada seorang pun yang bisa menunjukkan padaku di mana keberadaan Tuhan yang sebenarnya!”

            Bean hanya terdiam mendengar jawaban dariku. Aku juga terdiam. Kami memang seringkali saling berdiam diri, menikmati kesendirian masing-masing tanpa pernah merasa saling mengganggu atau terganggu dengan keadaan ini. Hal ini lah yang membuat aku dekat dengannya, kami tak pernah berusaha untuk ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing.

            Bean beranjak menuju sudut di mana tape deck bututku berada, dan menyetel “The End”nya The Doors dengan volume kencang. Aku hanya meliriknya sekilas, dan tak peduli apa pun yang dilakukannya.


            AKU bisa saja menjadi seorang Hitler yang sangat bangga dan merasa bahwa bangsaku adalah yang terbesar dan paling agung dibanding bangsa-bangsa lain di seluruh muka bumi ini. Aku belum mati; jika kau anggap aku sudah mati, kau salah besar!, karena tak ada yang bisa membunuhku. Tak ingatkah kau, aku tidur denganmu semalam!

            Aku juga bisa menjadi orang yang menembak mati Lennon. Jika kalian bertanya kenapa aku membunuhnya, aku akan menjawabnya,”Aku membunuhnya karena aku membenci lirik-lirik lagunya, aku membunuhnya karena Lennon lebih terkenal daripada Ozzy”.

            Aku pun bisa menjadi kecoak raksasa yang tak dikehendaki hidup oleh keluargaku, dan oleh karenanya aku disingkirkan untuk dibunuh secara perlahan-lahan, dengan arsenik yang diberikan sedikit demi sedikit melalui makanan yang disuguhkan padaku tiap hari.
 

            AKU dinamakan “D”. Aku tidak lebih berarti daripada huruf-huruf lainnya. Dan sekali lagi, aku tidak pernah peduli itu.[]